Laku Spiritual Sebagai Upaya Mencari Cahaya Hidup Yang Lebih Terang dan Mencerahkan


Laku Spiritual Sebagai Upaya Mencari Cahaya Hidup Yang Lebih Terang dan Mencerahkan

Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Cara berpikir, cara hidup dan cara bersikap akan sangat menentukan masa depan yang lebih baik dan lebih menyenangkan. Sehingga kesempatan untuk terus memperbaiki diri dapat dilakukan untuk lebih taat pada etika, mendisiplin diri dalam bingkai moral dan akhlak mulia sebagai manusia yang berkepribadian baik dan unggul untuk diri sendiri dan orang lain. Karena itu, upaya untuk memahami kepribadian dari diri sendiri sangat penting dengan cara melakukan secara rutin introspeksi diri dengan kejujuran dan keikhlasan melakukan koreksi diri agar dapat terus memperbaiki sikap dan sifat yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk melakukan interaksi atau tata hubungan dengan pihak lain.

Oleh karena itu kontemplasi, perenungan, atau semacam tafakur dan ikhtikaf menjadi penting untuk dilakukan secara rutin disela berbagai kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Inilah sajah satu laku spiritual untuk mencapai tingkat tertentu agar dapat mumpuni melakukan laku spiritual lebih jauh dan intens untuk menemukan nilai-nilai yang tidak pernah pernah diduga sebelumnya bisa menjadi suatu kekuatan atau kemampuan lebih tidak dalam bentuk fisik. Terutama dalam mempertajam rasa, insting, naluri atau getaran dari ucapan bathin yang membisikkan sesuatu pertanda untuk segera disikapi dengan cara yang bijak dan lebih baik.

Jadi untuk mengasah kepekaan panca indra dengan fungsinya masing-masing-masing — melihat tidak melalui mata, mendengan tidak dengan telinga serta merasakan segenap getaran atau vibrasi yang mampu diterima oleh bathin — akan sangat membantu dalam menentukan sikap pilihan dari tindakan terbaik untuk dilakukan agar dapat memperoleh manfaat yang terbaik bagi sendiri atau untuk orang lain.

Dalam konteks inilah ajaran dan tuntunan agama bahwa manusia yang lebih baik dan lebih mulia itu adalah mereka yang bisa lebih banyak memberi manfaat dan kegunaan bagi orang lain. Sebab segala bentuk kebaikan yang bisa dilakukan belum berarti cukup, bila tidak memberi mandaat dan kebaikan bagi orang lain. Karena itu, sebagai bagian dari inti fungsinya agama bagi manusia adalah mengarahkan semua energi positif untuk berbuat baik, termasuk perlakuan terhadap alam lingkungan — dalam bentuk fisik dan non fisik — sebagai anugrah yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling mulia dibanding dengan makhluk yang lain.

Agaknya, demikian esensi terpenting dari tujuan laku spiritual perlu ditekuni untuk dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, alam serta makhluk lain, termasuk malaikat dan jin.

Kemampuan untuk melakukan semua tahapan laku spiritual ini secara bertahap, pun hanya dapat ditakar sendiri oleh kemampuan diri yang telah dimiliki sebagai modal dasar yang dapat dikelola dengan cara yang lebih baik, sesuai dengan kemampuan dan pilihan cara terbaik setiap individu yang mau dan mau melakukan laku spiritual untuk memperkuat diri tegak dan kukuh dalam tata etika dan moral yang terkemas dalam akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah yang mengemban amanah ilahi Rabbi di muka bumi.

Dalam perspektif spiritual, tampaknya inilah yang dimaksud okeh para kaum sufi sebagai wujud dari pengembaraan bathin menemukan cahaya hidup yang lebih terang dan mencerahkan selama hidup di bumi sebelum akhirnya mati. Sebab hanya dalam pengertian dimensi spiritual bahwa hidup yang akan diakhiri ke liang kubur itu — juga akan mengakhiri semua laku manusia di muka bumi. Dalam pemahaman serta keyakinan agama, begitulah akhir dari perjalanan sejarah manusia. Yang tersisa sekedar nostalgia dari kenangan semata yang mungkin masih tergantung pada batu nisan yang juga bersifat sangat sementara itu.**

Banten, 9 Maret 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!