Cahaya dari Tanjung Jaya: Tutor PKBM Al Zaytun Menyemai Harmoni di Bulan Suci


Cahaya dari Tanjung Jaya:
Tutor PKBM Al Zaytun Menyemai Harmoni di Bulan Suci

Oleh : Siti Rohmah, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)

Langit siang itu cerah. Angin berembus pelan menyapu Blok Tanjung Jaya Janggot, Gantar, Indramayu. Namun yang lebih cerah adalah wajah-wajah para ibu yang datang dengan langkah ringan dan hati penuh harap. Di bulan Ramadhan 1447 H, mereka berkumpul bukan hanya untuk bersilaturahmi, melainkan untuk belajar menguatkan rumah tangga, tempat pertama cinta dan nilai kehidupan ditanamkan.

Safari Ramadhan bertema parenting keluarga itu menghadirkan warga belajar dan para tutor dari PKBM Al Zaytun. Sejak pukul 14.00 hingga 16.30 WIB, ruang sederhana itu berubah menjadi ruang dialog, ruang penguatan, sekaligus ruang penyadaran bahwa keluarga adalah amanah yang harus dijaga bersama.

Acara dibuka oleh MC, Ibu Khanisah, disusul sambutan Ketua Blok, Ibu Watiah, warga belajar Paket C. Suasana hangat langsung terasa. Tidak ada jarak antara penyelenggara dan peserta. Semua duduk dalam lingkar kebersamaan.

Ibu Siti Rohmah, tutor PKBM Al Zaytun, kemudian memperkenalkan program-program Paguyuban Istri Peduli (PIP): Safari Ramadhan parenting keluarga, perpustakaan PIP, pelatihan seni angklung, hingga rencana halal bihalal pasca-Idulfitri. Program-program itu bukan sekadar agenda kegiatan, melainkan ikhtiar membangun masyarakat yang lebih berdaya melalui keluarga yang kuat.

Namun suasana menjadi lebih hening ketika Joko Sairan, S.H., M.H., maju menyampaikan materi. Ia tidak sekadar berbicara, tetapi berkisah. Tentang perjalanan hidupnya yang penuh ujian, tentang keyakinan yang terus dirawat, hingga akhirnya ia mampu meraih gelar S2.

Ia mengingatkan bahwa ujian hidup tidak pernah datang tanpa izin Allah SWT. Masalah demi masalah bukan alasan untuk menyerah, melainkan panggilan untuk mendekat. “Jangan larut dalam keputusasaan,” pesannya. Berserah diri, memperbanyak doa, berusaha sungguh-sungguh, dan meyakini bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Allah Maha Mengetahui waktu terbaik untuk menolong hamba-Nya, bahkan membuka jalan dari arah yang tak disangka-sangka.

Beberapa ibu tampak mengangguk pelan. Ada yang matanya berkaca-kaca. Barangkali mereka sedang mengingat ujian hidup masing-masing.

Sesi berikutnya menghadirkan Ibu Umi Umutiah, M.S.Psi. Materinya tentang dasar-dasar hukum pernikahan dan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Namun yang membuat sesi ini hidup adalah ruang diskusi yang terbuka. Para ibu tidak lagi sekadar mendengar, tapi mereka berbagi.

Ada yang bertanya tentang komunikasi dengan pasangan. Ada yang mengeluhkan perbedaan pola asuh anak. Ada pula yang menyampaikan tekanan ekonomi yang kerap memicu pertengkaran. Semua disampaikan dengan jujur, tanpa takut dihakimi.

Ibu Umi menjawab satu per satu dengan tenang. Ia menekankan bahwa keluarga adalah fondasi utama kehidupan. Di sanalah kasih sayang, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai pertama kali diajarkan. Namun keluarga juga tidak luput dari konflik.

Ia merinci persoalan yang kerap muncul dalam rumah tangga:

Kurangnya komunikasi terbuka akibat kesibukan, yang melahirkan kesalahpahaman.
Perbedaan pola asuh anak yang memicu pertentangan.
Masalah ekonomi yang menimbulkan ketegangan.
Kurangnya waktu berkualitas bersama meski tinggal serumah.
Emosi yang tidak terkendali akibat tekanan hidup.

Namun setiap masalah, katanya, selalu memiliki strategi penyelesaian.

Luangkan waktu berdiskusi, meski sebentar.
Samakan visi dalam pengasuhan.
Susun anggaran secara terbuka dan realistis.
Ciptakan momen kebersamaan.
Belajar menenangkan diri sebelum berbicara.

Pesannya sederhana, tetapi mengena: keharmonisan keluarga tidak tercipta secara instan. Ia lahir dari komitmen, komunikasi, dan kesediaan untuk saling memahami.

Menjelang akhir acara, Ibu Maryuni, S.Pd.SD., menyampaikan tentang lima bahasa kasih: cara-cara sederhana mengekspresikan cinta yang sering kali terlupakan dalam rutinitas. Sentuhan, kata-kata penguatan, waktu berkualitas, pelayanan, dan hadiah kecil yang tulus. Semuanya bisa menjadi jembatan kebahagiaan.

Sore itu, Safari Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Dan para tutor PKBM Al Zaytun hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penuntun yang menyalakan cahaya kecil di setiap rumah yang ingin tetap hangat oleh kasih dan iman.**


Indramayu, 1 Maret 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!