SUKU MELAYU DIJADIKAN SEBAGAI BANGSA ADALAH STRATEGI POLITIK MALAYSIA UNTUK MENCEGAH DOMINASI ORANG CINA
Oleh : Hamly Hadi
( Pemerhati Sejarah )
Dari hasil sensus penduduk tahun 1957, terungkap bahwa penduduk Melayu dan Orang Asli hanya sekitar 49% dari keseluruhan penduduk Malaysia, Tionghoa 37%, dan India 12%. Enam tahun kemudian setelah pembentukan Federasi Malaysia, jumlah orang Melayu dan Tionghoa hampir sama banyaknya. Hal ini disebabkan, bergabungnya Singapura yang mayoritas Tionghoa ke dalam federasi.
Jika dihitung dari jumlah penduduknya saja, pada tahun itu orang Non-Melayu sudah melebihi jumlah orang-orang Melayu. Apalagi jika diukur angka-angka perimbangan ekonomi dan tingkat kemakmuran. Dimana hampir 70% kue ekonomi negara dikuasai oleh masyarakat Tionghoa, sedangkan puak Melayu tidak mencapai angka 10%-pun. Dari pendapatan per rumah tangga, nampak pula kemakmuran orang-orang Melayu yang jauh di bawah masyarakat Tionghoa dan India. Jika rumah tangga Tionghoa bisa memiliki pendapatan USD 394 per bulan, dan India USD 304 per bulan, maka kaum Melayu bumiputra hanya memperoleh USD 172 per bulan. Rendahnya income masyarakat Melayu ketika itu, disebabkan okupansi masyarakatnya yang hanya berkisar pada usaha pertanian dan perkebunan. Hal itu pula yang menyebabkan 4 dari 5 kota utama di Malaysia dihuni oleh mayoritas orang-orang Tionghoa.
Melihat realitas ini, maka Tunku Abdul Rahman dengan segera menyusun sebuah operasi rahasia sebagai berikut :
1.Menjadikan istilah Melayu sebagai bangsa
untuk merangkum semua etnik non Melayu yang beragama Islam seperti Jawa,Aceh, Minang, Banjar, Bugis, Makkasar, Mandailing,kerinci,Bawean dll. Untuk memuluskan strategi ini pihak kerajaan memberikan hak istimewa kepada kaum Melayu agar semua etnik mau mengaku sebagai Melayu .
Untuk mendapatkan beasiswa, bantuan rawatan pnyakit kronik, harga istimewa bahan bakar ( petrol ), semua etnik non Melayu yang tersebut di atas akhirnya mengaku melayu.
Definisi suku Melayu pun akhirnya mulai berubah menjadi Bangsa. Dan didukung oleh teori yang diciptakan oleh ilmuan barat yang mencetuskan teori Melayu sebagai rumpun dan ras , karena barat juga berkepentingan untuk mencegah komunis di negara negara Asean sehingga barat cenderung mendukung Melayu .
2.Melakukan impor Manusia dari Indonesia
Pada akhir dekade 1960 Tunku Abdul Rahman menandatangani perjanjian “impor manusia” dari Indonesia. Warga Indonesia yang didatangkan, tak hanya sebatas buruh-buruh kasar yang kelak mendukung pembangunan infrastruktur Malaysia, namun juga para tenaga ahli seperti guru, dokter, dan perawat. Berdatangannya orang-orang Indonesia ke Malaysia, maka turut mendongkrak komposisi etnis Melayu di negeri jiran tersebut.
Berdasarkan sensus penduduk tahun 1970, penduduk Melayu dan Orang Asli naik menjadi 55,5%; berbanding 34,1% untuk Tionghoa dan 9% untuk India. Saat ini dengan semakin derasnya kedatangan tenaga kerja Indonesia, baik yang legal maupun ilegal, telah mempercepat peningkatan komposisi penduduk Melayu diantara bangsa-bangsa lainnya. Menurut perkiraan di tahun 2004, etnis Melayu dan Orang Asli sudah mencapai 61,4%, Tionghoa dan India menyusut masing-masing ke angka 23,7% dan 7,1%.***
Banjarmasin, 3 Januari 2026
———
![]()
