Cerpen :
BERPACU DENGAN MELODI
Karya: TEUKU HUSAINI
Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di kaki bukit hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Ranu. Ia dikenal pemalu, sederhana, namun memiliki satu anugerah yang tak dimiliki banyak orang: kemahiran memainkan biola tua peninggalan ayahnya. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri, Ranu akan duduk di beranda rumahnya, membiarkan jemarinya menari di atas senar biola. Melodi yang dilahirkannya jujur, penuh kerinduan dan harapan.
Ayahnya dahulu seorang musisi jalanan. Sebelum meninggal, ia pernah berkata, “Suatu hari, Nak, melodi akan membawamu pada takdirmu. Ikuti saja suara dalam hatimu.” Kata-kata itu selalu melekat pada jiwa Ranu, menjadi alasan ia terus berlatih meski banyak orang meremehkan.
Suatu sore ketika Ranu berlatih di bukit desa, angin membawa sosok gadis yang mengubah takdirnya. Gadis itu bernama Erni, putri salah satu tokoh masyarakat. Ia cantik, lembut, dan dikenal ramah, tetapi jarang membuka hatinya pada orang lain. Saat mendengar melodi biola Ranu, langkahnya terhenti. Ia merasa ada sesuatu yang hidup dalam nada-nada itu, sesuatu yang menenangkan dan sekaligus membangunkan kenangan indah.
Ranu kaget ketika melihat Erni memperhatikannya. Wajahnya memerah karena gugup, namun Erni hanya tersenyum.
“Melodinya indah sekali… boleh aku dengar lagi?”
Suara lembut itu membuat jantung Ranu berdetak tak karuan.
Sejak itu, Erni sering datang ke bukit. Terkadang ia membawa buku cerita, terkadang hanya duduk diam sambil menikmati alunan musik. Ranu merasa hidupnya berubah. Untuk pertama kalinya, ia memainkan biolanya bukan hanya untuk mimpi—melainkan untuk seseorang.
Namun perjalanan keduanya tidak mudah. Beberapa warga menganggap Ranu tidak pantas dekat dengan Erni. Keluarga Erni pun awalnya ragu karena perbedaan status sosial mereka. Tapi Erni percaya, bahwa kualitas seseorang tak diukur dari harta, melainkan dari hati. Dan hati Ranu, menurutnya, lebih jernih dari mata air manapun.
Ketika lomba musik tingkat kabupaten digelar, Erni adalah orang pertama yang menyuruh Ranu ikut.
“Kamu harus mencoba. Melodimu akan didengar dunia suatu hari nanti,” katanya dengan keyakinan yang membuat Ranu terharu.
Hari perlombaan adalah titik balik. Dengan biola tua dan kemeja sederhana, Ranu tampil di tengah peserta yang menggunakan alat musik mahal. Tapi kejujurannya memenangi hati juri. Ranu keluar sebagai juara dan mendapat beasiswa ke sekolah musik kota.
Keberhasilan itu perlahan membuka hati keluarga Erni. Mereka melihat kesungguhan Ranu, bukan hanya dalam bermusik, tetapi juga dalam memperlakukan Erni. Ranu selalu menghargai, melindungi, dan menghormatinya. Ia tak pernah berjanji muluk—cukup berjanji akan terus berusaha.
Tahun demi tahun berlalu. Ranu menyelesaikan pendidikannya dengan gemilang. Namanya mulai dikenal sebagai musisi muda berbakat. Namun betapa pun jauh ia pergi, ia selalu pulang ke desa, selalu kembali ke bukit tempat semuanya bermula. Dan Erni, dengan kesetiaan yang tenang, selalu menunggunya.
Hingga akhirnya, pada suatu sore yang sama indahnya dengan hari pertemuan pertama mereka, Ranu datang membawa biola yang kini sudah diperbaiki dan mengilat seperti baru.
“Erni,” katanya dengan suara yang bergetar, “aku memulai hidupku dengan melodi… dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.”
Erni tak kuasa menahan air mata.
“Aku sudah menunggu kalimat itu bertahun-tahun, Ranu.”
Pernikahan mereka digelar sederhana namun hangat. Seluruh desa hadir. Para tetua yang dulu ragu kini tersenyum bangga melihat kebahagiaan keduanya. Ranu memainkan biola saat prosesi berlangsung, menampilkan melodi yang ia ciptakan khusus untuk Erni—melodi cinta, melodi kesetiaan, dan melodi masa depan.
Kehidupan pernikahan mereka berjalan harmonis. Ranu membuka sekolah musik kecil di desa agar anak-anak tidak takut bermimpi seperti dirinya dulu. Erni mendampinginya, mengurus administrasi dan mengajar membaca musik dasar. Setiap sore, mereka berjalan ke bukit, membawa teh hangat dan mengenang perjalanan cinta yang panjang.
Pada suatu senja, Ranu memandang Erni yang duduk di sampingnya.
“Kita bahagia, ya?”
Erni tersenyum, menautkan tangannya pada tangan Ranu.
“Bahagia sekali. Sejak dulu… aku sudah tahu, kamu memang jodohku.”
Dan di bawah langit jingga yang tenang, Ranu merasa hidupnya benar-benar lengkap. Melodi ayahnya telah membawanya pada takdirnya—melodi cinta yang membuatnya dan Erni bersanding selamanya dalam kebahagiaan.**
Indonesia, 11 Desember 2025
Nanda
——–
![]()
