“Mataan Lakum Walian‘amikum: Ketika Hewan Ternak Menguji Kesadaran Manusia”
(Refleksi Hari Ternak, 10 April)
Oleh : Ali Aminulloh
Pagi itu, suara ayam bersahutan, sapi mengunyah tenang, dan embun masih menggantung di ujung rumput. Kehidupan tampak sederhana, hingga kita sadar, dari sanalah kehidupan manusia bertumpu.
Di dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan dengan kalimat yang begitu jernih sekaligus menggugah:
“mataa‘an lakum wa li-an‘aamikum” : sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian.
Satu kalimat, dua subjek: manusia dan hewan. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Hanya relasi.
Namun, di dunia modern, relasi itu perlahan berubah menjadi dominasi.
Ketika “Nikmat” Berubah Menjadi Eksploitasi
Setiap tanggal 10 April, dunia memperingati Hari Hewan Ternak Nasional (National Farm Animals Day). Sebuah momentum yang lahir dari keprihatinan bahwa di balik daging yang kita makan, susu yang kita minum, dan telur yang kita nikmati, ada kehidupan yang sering kali terabaikan.
Di banyak peternakan industri, hewan tidak lagi dipandang sebagai makhluk hidup, melainkan sebagai mesin produksi. Sapi yang tak pernah merasakan padang rumput. Ayam yang hidup dalam ruang sempit tanpa cahaya. Kambing yang dipaksa tumbuh cepat dengan intervensi kimia.
Mereka hadir di meja makan kita tanpa pernah benar-benar hadir dalam kesadaran kita. Out of sight, out of mind.
Padahal Rasulullah ﷺ telah jauh hari mengingatkan:
bahwa siapa yang tidak menyayangi makhluk di bumi, tidak akan disayangi oleh yang di langit. Bahkan dalam penyembelihan pun, Islam mengajarkan ihsan: cara yang paling lembut, paling minim penderitaan (Idza dabahtum fa ahsinul dzibhata).
Maknanya, sejak awal, Islam tidak hanya mengatur halal, tetapi juga beradab.
Trilogi Kesadaran: Dari Filosofis ke Sosial
Di tengah realitas ini, gagasan Trilogi Kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al Zaytun menemukan relevansinya.
Pertama, kesadaran filosofis.
Bahwa hewan ternak bukan sekadar objek konsumsi, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang diciptakan dengan tujuan. Mereka adalah amanah. Ketika manusia lupa makna, ia akan mudah tergelincir menjadi eksploitatif.
Kedua, kesadaran ekologis.
Peternakan bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga keseimbangan alam. Praktik yang tidak berkelanjutan, seperti penggunaan antibiotik berlebih, limbah peternakan, hingga overpopulasi kandang, bukan hanya menyakiti hewan, tetapi juga merusak bumi yang kita pijak bersama.
Ketiga, kesadaran sosial.
Apa yang kita konsumsi adalah pilihan moral. Setiap telur yang kita beli, setiap daging yang kita konsumsi, adalah suara. Apakah kita mendukung sistem yang adil, atau justru melanggengkan penderitaan yang tersembunyi?
Mengembalikan “Relasi” yang Hilang
Hari Hewan Ternak Nasional bukan sekadar peringatan. Ia adalah cermin.
Cermin yang memantulkan satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita masih melihat hewan sebagai makhluk hidup, atau hanya sebagai produk?
Al-Qur’an telah menempatkan manusia dan hewan dalam satu kalimat yang setara. Nabi telah mencontohkan kasih sayang bahkan dalam hal yang paling teknis sekalipun. Dan kesadaran modern menuntut kita untuk memilih: apakah akan terus hidup dalam ketidaksadaran, atau mulai membangun relasi yang lebih beradab.
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia sekaligus.
Tetapi kita bisa memulai dari satu kesadaran kecil: memilih yang lebih etis, memperlakukan yang lebih manusiawi, dan menghargai kehidupan, sekecil apa pun bentuknya.
Karena pada akhirnya,
cara kita memperlakukan hewan…
adalah cermin dari siapa kita sebagai manusia.**
Indonesia, 10 April 2026
——–
![]()
