Balasan untuk Jacob Ereste Tentang Manusia yang Menunggu Kematian dengan Cara yang Diam-Diam Merayakan Hidup


Balasan untuk Jacob Ereste
Tentang Manusia yang Menunggu Kematian dengan Cara yang Diam-Diam Merayakan Hidup

Oleh: Rizal Tanjung

Ada manusia-manusia tertentu, Tuan Jacob,
yang tidak lagi menunggu kematian dengan ketakutan—
melainkan dengan kesadaran yang sunyi,
seperti seorang petani tua
yang duduk di beranda senja,
menatap ladangnya yang telah selesai dipanen,
tanpa tergesa, tanpa cemas,
sebab ia tahu: musim telah menjalankan takdirnya.

Tulisanmu seperti cermin retak
yang memantulkan wajah kehidupan dari sudut paling jujur—
bahwa kematian, pada akhirnya,
bukanlah tamu yang asing,
melainkan sahabat yang pelan-pelan belajar kita kenali
melalui keriput, kehilangan, dan kesendirian.

Manusia yang kau kisahkan itu—
ia bukan sekadar hidup dalam “babak bonus”,
ia hidup dalam kesadaran bahwa setiap napas
adalah surat perpanjangan dari langit
yang tak pernah ia minta,
namun selalu ia syukuri
dengan cara yang sederhana: tetap hidup.

Dan betapa aneh dunia ini—
ketika kesederhanaan dianggap kekurangan,
dan kekurangan dianggap kegagalan.
Padahal justru dalam kesederhanaan itulah
manusia menemukan ruang paling luas
untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Ia tidak miskin, Tuan—
ia hanya tidak menumpuk beban yang tidak perlu.
Ia tidak kekurangan—
ia hanya menolak berlebihan.
Dan dalam sikap itulah,
ia diam-diam telah menaklukkan sesuatu
yang tak mampu ditaklukkan oleh banyak manusia:
nafsu untuk merasa cukup.

Menanti kematian,
bagi kebanyakan orang, adalah tragedi yang belum selesai.
Namun bagi sebagian kecil jiwa yang telah matang oleh waktu,
menanti kematian adalah seni yang paling sunyi.

Ia bangun setiap pagi bukan sebagai rutinitas,
melainkan sebagai keajaiban.
Ia makan bukan untuk kenyang,
melainkan untuk mengafirmasi bahwa tubuh ini masih bersedia tinggal
meski satu per satu bagian telah pamit.

Giginya telah pergi—
namun syukurnya tetap tinggal.
Kekuatannya telah menyusut—
namun kesadarannya justru tumbuh,
seperti akar yang semakin dalam
ketika pohon mulai kehilangan daun.

Dan di titik itulah manusia mulai mengerti:
bahwa hidup bukan soal bertahan lama,
tetapi tentang seberapa dalam ia memahami
bahwa ia akan pergi.

Kematian, Tuan Jacob,
bukanlah akhir dari perjalanan,
melainkan batas yang membuat perjalanan ini bermakna.

Tanpa kematian,
hidup hanyalah penundaan yang membosankan.
Tanpa kefanaan,
kita tak akan pernah belajar mencintai waktu.

Namun manusia sering kali hidup sebaliknya—
ia menghindari kematian dengan cara
melupakan hidup.
Ia mengejar dunia
seakan-akan ia akan tinggal selamanya,
padahal setiap detik adalah langkah menjauh
dari apa yang ia kejar itu sendiri.


Tokohmu itu—
yang dingin, tenang, dan nyaris tanpa reaksi—
barangkali bukan sedang menjauh dari dunia,
melainkan sedang melihat dunia dari jarak yang tepat.

Ia tidak tergoda,
karena ia sudah melihat ujung dari semua godaan.
Ia tidak gelisah,
karena ia telah berdamai dengan kehilangan yang pasti.

Dan mungkin benar,
ia tidak tampak religius dalam simbol,
tetapi ia sangat religius dalam kesadaran.
Sebab spiritualitas tertinggi bukan pada apa yang terlihat,
melainkan pada bagaimana seseorang
tidak lagi diperbudak oleh yang terlihat.


Menanti kematian,
pada akhirnya, bukan tentang menunggu waktu habis—
melainkan tentang menyempurnakan cara kita hadir.

Karena kematian tidak pernah datang tiba-tiba.
Ia telah lama tumbuh bersama kita—
dalam uban pertama,
dalam langkah yang mulai ragu,
dalam kehilangan yang tak tergantikan,
dalam malam-malam panjang
yang terasa lebih jujur daripada siang.

Dan ketika ia akhirnya tiba,
ia tidak benar-benar mengejutkan—
ia hanya menepati janji
yang sejak awal telah kita tanda tangani
tanpa kita sadari:
bahwa kita datang untuk pergi.


Maka manusia yang kau ceritakan itu,
sejatinya bukan sedang menunggu kematian—
ia sedang belajar pulang.

Dengan tenang.
Dengan ringan.
Tanpa banyak barang yang harus ditinggalkan.

Dan mungkin,
di antara hiruk-pikuk manusia yang sibuk menunda kefanaan,
dialah yang paling siap hidup—
karena ia sudah siap mati.***


Sumatera Barat, Indonesia, 7 April 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!