Syawal, Saat Manusia Naik Kelas (Pesan Istighasyah Reksa Mahardika Utama)

Syawal, Saat Manusia Naik Kelas
(Pesan Istighasyah Reksa Mahardhika Utama)

Oleh Ali Aminulloh

Fajar baru saja menyibak langit, Selasa pagi, 31 Maret 2026. Dalam sunyi yang khusyuk, ratusan jiwa terhubung dalam satu ruang spiritual yang sama, yaitu Istighasyah pagi yang diselenggarakan oleh Reksa Mardhika Utama. Tepat pukul 05.00 WIB, sebanyak 497 akun hadir, bukan sekadar untuk mendengar, tetapi untuk menata ulang arah hidup setelah Ramadhan berlalu.

Di balik layar, suara Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME mengalun tenang, membuka dengan doa Idul Fitri dan permohonan maaf. Sebuah pembuka yang sederhana, namun sarat makna: bahwa perjalanan peningkatan diri selalu dimulai dari kerendahan hati.

Tema yang diangkat pagi itu terasa begitu relevan: “Syawal sebagai bulan peningkatan kualitas diri” . Sebuah refleksi yang tidak berhenti pada euforia kemenangan, tetapi justru mengajak untuk bertanya lebih dalam: setelah Ramadhan, kita naik… atau justru kembali turun?

Ia mengawali dengan firman Allah dalam Surah Al-Asr ayat 1–3: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…” Sebuah peringatan yang tajam. Waktu, menurutnya, bukan sekadar angka yang berjalan, tetapi barometer kualitas manusia. Siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, dialah yang celaka. Siapa yang stagnan, dialah yang merugi. Dan hanya mereka yang meningkat, yang benar-benar beruntung.

Waktu, dalam perspektif kehidupan, bukan hanya perjalanan linear. Ia adalah proses: lahir, belajar, mempersiapkan diri, menghadapi ujian, meningkat, hingga mencapai kemuliaan. Menariknya, siklus ini ternyata tercermin dalam kalender Islam, bulan-bulan qamariyah yang bukan sekadar penanda waktu, tetapi peta perjalanan manusia.

Dua bulan sebelum Syawal adalah Sya’ban, fase persiapan. Lalu datang Ramadhan, bulan pembakaran dan penempaan jiwa. Dan Syawal, menjadi titik uji: apakah hasil tempaan itu benar-benar mengangkat kualitas diri?

Dalam Ramadhan, manusia diuji melalui shaum. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menundukkan dua pusat dorongan terbesar: perut dan syahwat. Hal-hal yang halal sekalipun, ditahan demi ketaatan. Bahkan saat tak ada yang melihat. Di sinilah letak transformasi terdalam: ketika hawa nafsu tunduk pada aturan Ilahi.

Dalam ilmu psikologi modern, perubahan perilaku memang membutuhkan konsistensi. Penelitian dari Phillippa Lally (2009) menunjukkan bahwa pembentukan kebiasaan baru memerlukan pengulangan terus-menerus selama periode tertentu, rata-rata sekitar 18 hingga 66 hari. Maka, 30 hari Ramadhan sejatinya adalah fondasi kuat bagi lahirnya jiwa yang baru. Jiwa yang lebih disiplin, lebih sadar, dan lebih tunduk.

Hasil dari tempaan shaum, dalam Al Baqarah:183, adalah taqwa. Dalam Surah Ali Imran ayat 133–134 dijelaskan karakter orang bertaqwa: mampu menafkahkan hartanya dalam lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan mampu memaafkan sesama. Dimensi spiritual, emosional, sekaligus sosial berpadu menjadi satu kesatuan utuh.

Namun, setiap ujian selalu melahirkan dua kemungkinan: kemuliaan atau kehinaan. Sebagaimana ungkapan hikmah yang disampaikan, “Indal imtihan yukramul mar’u au yuhan”: dalam ujian, manusia bisa dimuliakan atau justru dihinakan. Jika setelah Ramadhan tidak ada peningkatan, maka kerugianlah yang didapat. Bahkan bisa jadi, jatuh pada kehinaan. Sebaliknya, jika kualitas diri meningkat, maka itulah tanda dimuliakan.

Di sinilah Syawal menemukan maknanya. Ia bukan sekadar bulan setelah Ramadhan, tetapi momentum pembuktian. Ajakan untuk melanjutkan perjuangan melalui shaum enam hari di bulan ini menjadi simbol nyata: bahwa peningkatan sejati tidak berhenti pada satu bulan saja.

Puasa enam hari di Syawal, yang nilainya setara dengan puasa sepanjang tahun (shaum ad-dahr), justru lebih menantang. Saat orang lain kembali pada kebiasaan lama: makan, bersantai, seorang hamba memilih tetap menahan diri. Di sanalah kualitas diuji. Di sanalah kelas ditentukan.

Jika berhasil melewati fase ini, manusia naik ke tingkat berikutnya: Dzulqa’dah, fase memiliki kedudukan. Dan puncaknya adalah Dzulhijjah, fase kemuliaan. Sebuah perjalanan spiritual yang berujung pada pengakuan Ilahi atas martabat manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 70: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (Wa laqad karramna bani Adam…). Inilah titik di mana manusia mencapai kesejatiannya sebagai makhluk yang dimuliakan, bukan karena status, tetapi karena kualitas dirinya.

Pagi itu, istighasyah berakhir pukul 06.00 WIB. Namun pesan yang ditinggalkan tidak selesai di sana. Ia menggema dalam kesadaran: bahwa Syawal bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pembuktian.

Apakah kita benar-benar naik kelas… atau hanya merasa telah menang?


Indonesia, 31 Maret 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!