Potensi Gerakan Kesadaran Untuk Kebangkitan Spiritual Dunia Pantas dan Patut Dimulai Dari dan Oleh Bangsa Indonesia


*Potensi Gerakan Kesadaran Untuk Kebangkitan Spiritual Dunia Pantas dan Patut Dimulai Dari dan Oleh Bangsa Indonesia*

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Nilai-nilsi spiritual dalam agama tradisional berbagai bangsa di dunia, Sunda Wiwitan dari Indonesia adalah salah satu yang tercatat dalam dalam sejarah dunia. Menyusul kemudian agama Shonto dari Jepang. Lalu agana Hindu yang dominan di India. Dan agama Budha di Nepal.

Catatan sejarah dari keberadaan agama tradisiomal ini, semua memiliki muatan nilai spiritualitas yang khas dan kuat. Seperti Taoisme dan Konfusius dari China hingga agama Yaruba dari Afriks Barat dan agama Animisme yang ada di berbagai negara di Afrika, Asia dan Amerika serta Shaminisme yang juga menebar dalam berbagai suku di Asia, Amerika dan Eropa.

Semua agama tradisional ini, seperti Paganisme (Eropa) umumnya percaya pada Dewa dan roh serta kekuatan yang ada di alam raya. Seperti kepercayaan dari Suku Kunti yang ada di Jaea Barat dan Banten menaruh penghormatan yang tinggi dan kuat pada alam dan roh para leluhur.

Kendati begitu, agama tradisional yang ada di Indonesia cukup banyak. Mulai dari ujung Timur sampai ujung Barat, agama tradisional suku bangsa Indonesia, mulai dari Agama Kaharingan (Kalimantan Tengah asli milik Suku Dayak, Agama Permslim (Sumatra Utara, asli Batak), agama Waislam (Aceh) perpsduan antara Islam dan kepercayaan tradisional khas masyarakat Aceh.

Demikuan juga dengan Kejawen, agama lokal yang berbasis krpercayaan pada kekuatan alam dan arwah para leluhur yang berbaur dengan ajaran dan pemahaman spiritual khas yang warna Jawanya

Dalam sejarah suku bangsa Nusantara yang majemuk dan beraneka ragam keyakinan serta kepercayaannya, ada juga agama Talotang dari Sulawesi Selatan. Agama asli Suku Bugis ini berbasis pada kepercayaan kepada alam serta kekuatan para leluhur yang diyakini dapat memberi perlindungan dan kekuatan kepada semua anggota keluarga khususnya kepada anak vucu dan keturunannya yang ada. Di Sulawesi Selatan pun ada juga agama Uluk To Dolo milik Suku Toraja yang juga berbasis pada kekuatan alam dan para lelujur. Karena itu, tak sedikit diantara suku bangsa yang ada di Nusantara ini memiliki kemampuan melakukan komunikasi dengan para leluhur yang telah wafat namun tetap memiliki kekuatan serta kemampuan berkomunikasi dan memberi pertolongan yang diperlukan saat kondisi serta waktu yang sangat mendesak.

Lebih dari itu masih cukup banyak agama lokal lainnya di Indonesia. Seperti suku Samin yang memiliki agama dan keyakinannya yang khas di Jawa Tengah. Lalu suku Tengger memiliki agama trsdidional sendiri. Suku ini tinggal di sekitar Gunung Bromo dan yakin pada Dewa Bromo serts Dewi Danu. Suku Tengger ini pun memiliki disiplin diri yang kuat dalam upaya menjaga alam lingkungan serta memiliki kemamluan spiritual yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Agaknya, dari kekayaan warna budaya tradisional suku bangsa Indonesia ini wajar bila gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual dapat bangkit dan menjadi pusat sekaligus motor penggerak perubahan menuju masyarakat yang kuat berbasis pada etika (budaya) dan moral (keagamaan) yang kuat untuk membangun akhlak mulia manusia yang menghargai dan menghormati jagat rata dan seisinya dengan kedsdaran bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan yang patut dijaga bersama.

Stad dasar potensi dari nilai-nilai
Spiritual yang cukup besar serta beragam dimiliki oleh suku bangsa Indonesia, maka wajar dan patut sekiranya gerakan kesadaran untuk kebangkitan spiritual dunia dimulai dan dilakukan oleh bangsa Indonesia yang memiliki akar budaya dan tradisi keagamaan yang yang subur untuk menjadi taman persemaian spiritualitas berkelas yang berkualitas untuk menopang peradaban baru bagi manusia agar dapat memiliki kesetimbangan dari lompatan teknologi super modern pada abad milenial sekarang ini. Sebab hanya dengah memiliki kemampuan dan ketangguhan spiritual yang cerdas serta mumpuni, manusia di penghujung jaman ini dapat bertahan dalam sikap dan sifat kemuliaannya sebagai yang beradab di bumi.***


Banten, 23 Maret 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!