Oleh: Ali Aminulloh
Bebeeapa hari lagi umat Islam merayakan hari kemenangan dengan cara yang justru menyisakan tanda tanya? “Kapan hari Raya Idul Fitri?” Sebuah momentum suci yang disiapkan begitu besar, melibatkan negara, masyarakat, dan seluruh elemen kehidupan, namun penentuan waktunya sendiri masih menggantung di ujung ketidakpastian. Ini bukan sekadar soal teknis. Ini soal kesadaran.
Bagi Muslim Indonesia, Idul Fitri adalah peristiwa nasional. Jauh hari sebelumnya, masyarakat sudah menabung demi menyambut hari raya. Aparat kepolisian menggelar Operasi Ketupat. Pemerintah melakukan inspeksi pasar untuk menjaga stabilitas pangan. Dunia industri bergerak cepat: makanan, pakaian, hingga transportasi. Jalan-jalan diperbaiki, program mudik gratis digelar, maskapai menambah jadwal penerbangan, PT KAI meningkatkan layanan. Semua dirancang dengan matang, terukur, dan pasti.
Namun di tengah semua kepastian itu, ada satu hal yang justru tidak pasti: kapan tepatnya Idul Fitri dilaksanakan. Kita tahu bahwa ia jatuh pada 1 Syawal. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama setiap tahun: 1 Syawal itu jatuh pada tanggal berapa??? Jawabannya seringkali baru hadir melalui sidang isbat, bahkan hanya satu hari sebelum hari raya. Sebuah ironi yang terus berulang.
Di Indonesia, persoalan ini semakin nyata karena adanya dua metode penetapan awal bulan Hijriyah. Metode hisab, yang digunakan Muhammadiyah, memberikan kepastian jauh hari sebelumnya berbasis perhitungan astronomi yang presisi. Sementara metode rukyat, yang lazim digunakan Nahdlatul Ulama, sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga kepastian sering kali baru diperoleh di detik-detik akhir. Pemerintah mencoba mengombinasikan keduanya melalui sidang isbat, namun hasilnya tetap: masyarakat menunggu, menebak, bahkan bersiap dalam dua kemungkinan.
Pertanyaannya sederhana, tapi mendasar: mengapa teknis waktu justru mengalahkan substansi ibadah itu sendiri?
Al-Qur’an telah memberi arah yang terang. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:
“فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ”
“Barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 189:
“يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ”
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: itu adalah penentu waktu bagi manusia…”
Dan dalam QS. Al-Isra ayat 12:
“وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ…”
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda…”
Semua ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas keteraturan, kepastian, dan kemudahan bagi manusia. Namun lebih dalam dari itu, ada satu hal yang sering terlupakan: tujuan ibadah adalah kemaslahatan.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan ego. Menahan keinginan diri. Mengendalikan hawa nafsu. Bahkan lebih jauh: menundukkan ego kelompok. Puasa adalah proses kembali ke fitrah: menjadi manusia yang lebih jernih, lebih rendah hati, dan lebih siap untuk bersatu.
Namun ironisnya, ketika Ramadan berakhir, justru ego itu kembali muncul dalam bentuk yang berbeda. Ego metode. Ego kelompok. Ego kebenaran masing-masing. Seolah-olah teknis penentuan waktu menjadi lebih penting daripada makna persatuan yang seharusnya lahir dari ibadah itu sendiri.
Di sinilah kita perlu jujur: apakah kita benar-benar memahami tujuan puasa?
Jika puasa berhasil, maka Idul Fitri seharusnya menjadi momentum penyatuan. Bukan perbedaan. Bukan kebingungan. Bukan juga perdebatan yang berulang tanpa ujung.
Dalam perspektif trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun, yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, persoalan ini menjadi semakin jelas.
Secara filosofis, syariat hadir untuk kemaslahatan, bukan kerumitan. Jika cara lama menimbulkan ketidakpastian, maka yang harus dijaga adalah tujuannya, bukan sekadar metodenya.
Secara ekologis, alam semesta berjalan dengan hukum yang pasti. Peredaran bulan dan matahari tidak pernah salah. Ilmu pengetahuan adalah cara manusia membaca kepastian itu. Mengabaikan teknologi berarti mengabaikan ayat-ayat kauniyah Allah yang begitu jelas.
Secara sosial, dampaknya nyata. Perbedaan hari raya memecah momen kebersamaan umat. Keluarga bisa berbeda hari, masyarakat bingung, bahkan suasana nasional menjadi tidak seragam. Padahal Idul Fitri adalah simbol persatuan.
Lalu, sampai kapan kita membiarkan hal ini terjadi?
Apakah kita akan terus mempertahankan perbedaan atas nama metode, sementara substansi ibadah, yaitu kemaslahatan dan persatuan, justru terabaikan?
Padahal di era ini, teknologi telah mencapai tingkat yang luar biasa. Penentuan posisi bulan bisa dihitung dengan akurasi tinggi. Tidak lagi bergantung pada cuaca atau keterbatasan pandangan mata. Kepastian itu ada. Tinggal apakah kita mau menggunakannya atau tidak.
Syariat tidak pernah bertujuan mempersulit. Ia datang untuk memudahkan, menyatukan, dan membawa kebaikan bagi manusia. Maka jika hari ini masih ada ketidakpastian, mungkin yang perlu kita renungkan bukan dalilnya,tetapi cara kita memahami dan mengamalkannya.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati di hari raya bukan sekadar berhasil menahan lapar selama sebulan, tetapi berhasil menundukkan ego, baik ego diri maupun ego kelompok.
Dan jika itu benar-benar tercapai, maka Idul Fitri tidak hanya menjadi hari kemenangan, tetapi juga hari di mana umat ini kembali pada fitrahnya: bersatu.**
Indonesia, 18 Maret 2026
——
![]()
