Perempuan, Pilar Peradaban (Refleksi Hari Perempuan Internasional, 8 Maret)


Perempuan, Pilar Peradaban
(Refleksi hari Perempuan Internasional, 8 Maret)

Oleh: Ali Aminulloh

Pagi 8 Maret selalu membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pergantian tanggal. Ia adalah pengingat tentang kekuatan sunyi yang selama ini menopang peradaban: perempuan. Dari rahimnya lahir generasi, dari tangannya tumbuh kasih sayang, dan dari pikirannya lahir peradaban yang lebih manusiawi.

Tanggal ini diperingati dunia sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Sebuah momentum global untuk mengingat kembali perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan, keadilan, dan pengakuan atas peran penting mereka dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga politik.

Sejarah mencatat, perjuangan itu tidak lahir dalam ruang yang mudah. Pada tahun 1908, sekitar 15.000 perempuan di New York turun ke jalan menuntut hak pilih, kondisi kerja yang layak, dan upah yang adil. Gelombang kesadaran itu kemudian meluas hingga pada 1911 Hari Perempuan Internasional pertama kali diperingati di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Hingga akhirnya pada 1975, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 8 Maret sebagai peringatan internasional bagi perempuan di seluruh dunia.

Hari ini diperingati dengan berbagai kegiatan: seminar, diskusi, aksi sosial, hingga penghargaan bagi perempuan yang memberi kontribusi bagi masyarakat. Semua itu menjadi ruang refleksi bahwa perjuangan perempuan bukan hanya soal hak, tetapi juga tentang membangun peradaban yang lebih adil.

Dalam perspektif peradaban Islam, perempuan bahkan ditempatkan sebagai tiang negara. Sebuah ungkapan Arab yang sangat terkenal menyebutkan:

“Al-mar’atu ‘imādul bilād, idzā sholuhat sholuhal bilād, wa idzā fasadat fasadal bilād.”
Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, baiklah negara itu. Jika perempuannya rusak, rusak pula negara itu.

Ungkapan ini menegaskan bahwa masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perempuan di dalamnya sebagai ibu, pendidik pertama, penjaga nilai, sekaligus penggerak kehidupan sosial.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini sejalan dengan Trilogi Kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al Zaytun, yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Ketiga kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam membangun manusia dan peradaban yang utuh.

Pertama, kesadaran filosofis.
Perempuan memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir generasi. Seorang ibu bukan hanya melahirkan anak, tetapi juga menanamkan nilai, makna hidup, dan cara memandang dunia. Dari ruang keluarga lahir kesadaran tentang kebenaran, tanggung jawab, dan tujuan hidup. Di sinilah perempuan menjadi pendidik pertama bagi lahirnya manusia yang berpikir jernih dan berakhlak.

Kedua, kesadaran ekologis.
Perempuan memiliki kedekatan alami dengan kehidupan. Ia merawat, menjaga, dan menumbuhkan. Nilai-nilai menjaga lingkungan, hidup bersih, menghargai alam, serta hidup selaras dengan ciptaan Tuhan seringkali bermula dari rumah. Ketika perempuan memiliki kesadaran ekologis, maka generasi yang tumbuh juga akan memiliki tanggung jawab terhadap bumi yang mereka huni.

Ketiga, kesadaran sosial.
Perempuan adalah pengikat kehidupan sosial. Dari kepedulian terhadap tetangga, pendidikan anak, hingga aktivitas sosial di masyarakat, perempuan sering menjadi penggerak solidaritas. Ketika perempuan memiliki empati dan kesadaran sosial yang tinggi, maka masyarakat akan tumbuh menjadi lebih peduli, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Karena itu, peringatan Hari Perempuan Internasional sejatinya bukan hanya tentang perjuangan hak-hak perempuan, tetapi juga tentang bagaimana perempuan mengambil peran strategis dalam membangun peradaban yang berkesadaran.

Tema Hari Perempuan Internasional 2026, “Give to Get” (Memberi untuk Mendapatkan) menjadi pesan yang sangat relevan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berkembang, diberi kesempatan untuk berkontribusi, dan diberi penghargaan atas perannya, maka yang didapat dunia bukan sekadar kesetaraan, tetapi lahirnya generasi yang lebih beradab.

Karena sesungguhnya, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat.
Ia adalah pilar peradaban.

Dan ketika perempuan berdiri dengan kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, maka bukan hanya keluarga yang kuat, tetapi sebuah bangsa pun akan tegak dengan kokoh.**


Indonesia, 8 Maret 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!