Kepanduan: Menemukan Kembali “Persahabatan Kita” di Era Digital
(Refleksi Hari Pramuka Internasional, 22 Februari)
Oleh: Ali Aminulloh
Di balik gemerlap layar smartphone, ada paradoks yang nyata: kita terhubung dengan ribuan orang secara virtual, namun seringkali merasa paling kesepian. Bagi Generasi Z, dunia adalah genggaman jemari. Namun, di balik kecepatan algoritma dan validasi likes, muncul bayang-bayang individualisme yang kian menebal. Kita asyik dengan diri sendiri, terjebak dalam gelembung filter yang membuat dunia terasa sempit.
Lalu, bagaimana cara kita kembali membumi? Jawabannya mungkin ada pada warisan berusia seabad lebih yang digagas oleh Robert Baden-Powell.
100 Tahun Refleksi: Bukan Sekadar Seragam Cokelat
Tahun 2026 menjadi momentum yang luar biasa. Bertepatan dengan hari lahir Baden-Powell pada 22 Februari, dunia merayakan 100 tahun World Thinking Day. Mengusung tema resmi dari WAGGGS dan WOSM, “Our Friendship” (Persahabatan Kita), peringatan ini bukan sekadar seremoni baris-berbaris.
Tema ini adalah “tamparan” lembut bagi kita semua. Di tengah budaya media sosial yang seringkali memicu perpecahan, Kepanduan hadir menawarkan nilai inti: persahabatan global yang lintas budaya, agama, dan latar belakang. Ini adalah gerakan yang mengajak jutaan pemuda di 150 negara untuk berhenti sejenak dari scrolling tanpa henti dan mulai merenungkan ikatan nyata antarmanusia.
Kepanduan sebagai Penawar Individualisme
Mengapa Kepanduan masih relevan untuk Gen Z yang “sibuk” dengan dunia digital? Karena Kepanduan adalah sekolah kehidupan yang praktis. Saat media sosial mendorong kompetisi citra, Kepanduan justru menanamkan:
– Kerja Sama: Menggantikan ego dengan kolaborasi tim.
– Cinta Alam: Mengalihkan pandangan dari layar menuju kelestarian lingkungan.
– Keberanian Nyata: Bukan sekadar berani berkomentar di kolom chat, tapi berani beraksi dalam bakti masyarakat.
Menyelami Trilogi Kesadaran
Untuk memperkuat langkah di era modern ini, nilai kepanduan perlu disinergikan dengan Trilogi Kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al-Zaytun. Pemikiran ini menjadi fondasi kokoh bagi pemuda untuk menjadi manusia yang utuh:
– Kesadaran Filosofis: Memahami hakikat diri dan tujuan hidup agar tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat.
– Kesadaran Ekologis: Menyadari bahwa manusia adalah bagian dari alam. Jika alam rusak, kita pun ikut hancur. Ini selaras dengan visi kepanduan yang menjaga kelestarian bumi.
– Kesadaran Sosial: Memahami bahwa keberadaan kita bermakna jika bermanfaat bagi sesama. Persahabatan sejati lahir dari empati, bukan dari jumlah followers.
Saatnya Bergerak
Hari Kepanduan Sedunia 2026 adalah titik balik. Dari aksi sosial hingga kampanye literasi, setiap langkah kecil adalah upaya untuk merobohkan tembok individualisme.
Mari jadikan peringatan 100 tahun ini sebagai ajakan untuk “log out” sejenak dari dunia maya dan “log in” ke dalam kehidupan nyata. Karena pada akhirnya, persahabatan sejati tidak ditemukan dalam notifikasi, melainkan dalam jabat tangan dan kepedulian yang tulus terhadap sesama dan semesta.***
Indonesia, 22 Februari 2026
——-
![]()
