Butir Kecil, Takdir Besar
(Refleksi Hari Kacang-kacangan Sedunia, 10 Februari)
Oleh: Ali Aminulloh
Ia diremehkan karena kecil. Ia dilupakan karena sederhana. Namun justru dari butir yang nyaris tak diperhitungkan itulah, peradaban manusia bertahan.
Di tengah dunia yang memuja yang besar, yang cepat, dan yang megah, Hari Kacang-Kacangan Sedunia justru mengajak kita berhenti: merenung pada sesuatu yang kecil, diam, nyaris tak bersuara. Paradoksnya, dari yang kecil inilah kehidupan manusia disokong: gizi, tanah, solidaritas sosial, dan keberlangsungan hidup bersama.
Tanggal 10 Februari diperingati sebagai Hari Kacang-Kacangan Sedunia, ditetapkan oleh Majelis Umum PBB. Tema 2026, “Pulses of the World: From Modesty to Excellence”, seakan mengafirmasi satu kebenaran lama: kesederhanaan bukan lawan dari keunggulan. Ia justru jalannya.
Kesadaran Ilahi: Tuhan Memuliakan yang Kecil
Al-Qur’an sejak awal telah meletakkan filsafat ini: yang kecil tidak pernah diabaikan Tuhan.
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Zarrah (partikel paling kecil) menjadi ukuran keadilan Ilahi. Dalam logika wahyu, yang kecil justru presisi, bukan remeh. Kacang-kacangan, dengan ukurannya yang mungil, berdiri sejajar dengan prinsip ini: kecil, tapi berdampak kosmik.
Bahkan Al-Qur’an menggunakan biji sebagai metafora kebajikan sosial:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Sebutir biji yang kecil, nyaris tak berarti, menjadi sumber pelipatgandaan manfaat. Inilah falsafah kacang-kacangan: kecil secara fisik, besar secara sosial.
Trilogi Kesadaran Syaykh AS Panji Gumilang
Gagasan trilogi kesadaran yang digagas Syaykh AS Panji Gumilang menemukan legitimasi spiritualnya di sini.
1. Kesadaran Filosofis
Al-Qur’an menegaskan bahwa ukuran kebenaran bukan pada besarnya bentuk, melainkan pada makna dan dampaknya.
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.”
(QS. Al-Baqarah: 26)
Filsafat kacang-kacangan berdiri di sini: yang kecil layak menjadi sumber hikmah. Ia menolak kesombongan peradaban yang hanya menghormati yang besar.
2. Kesadaran Ekologis
Al-Qur’an berulang kali menyebut benih dan tumbuhan sebagai tanda keseimbangan alam:
“Dengan air itu Dia menumbuhkan bagi kamu tanam-tanaman…”
(QS. An-Nahl: 10–11)
Kacang-kacangan, yang memperbaiki tanah dan menjaga siklus nitrogen, adalah manifestasi nyata ayat ini. Ia bukan sekadar tanaman, tapi instrumen rahmat ekologis.
3. Kesadaran Sosial
Puncak dari falsafah kecil ini adalah tanggung jawab sosial. Al-Qur’an menutup ruang bagi kesombongan manusia:>
“Jika ada (perbuatan) seberat biji sawi, pasti Allah mendatangkannya.”
(QS. Luqman: 16)
Biji sawi, lebih kecil dari kacang, menjadi simbol keadilan sosial total. Dalam konteks pangan, kacang-kacangan adalah alat pemerataan: murah, bergizi, dan menjangkau yang lemah. Ia menjaga martabat manusia dari kelaparan dan ketergantungan.
Dari Wahyu ke Dapur, dari Dapur ke Peradaban
Maka Hari Kacang-Kacangan Sedunia bukan seremoni pangan. Ia adalah refleksi peradaban: bagaimana Tuhan, alam, dan manusia bertemu dalam sesuatu yang kecil.
Dari ladang petani hingga meja makan keluarga sederhana, kacang-kacangan mengajarkan satu etika besar: kehidupan dijaga bukan oleh yang megah, tetapi oleh yang setia bekerja dalam sunyi.
Epilog: Teologi Sebutir Kacang
Hari ini kita belajar satu hal mendasar:
Tuhan tidak membangun dunia dengan kesombongan ukuran, melainkan dengan ketekunan makna.
Dalam sebutir kacang, bertemu wahyu, filsafat, ekologi, dan solidaritas sosial.
Kecil di tangan manusia, besar di hadapan Tuhan.**
Indonesia, 10 Februari 2026
——
![]()
