Lelah di Tengah Prestasi: Ketika Peradaban Sibuk, Manusia Kehilangan Diri
Oleh : Dr.Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.
Siang tak pernah benar-benar menjadi siang. Malam pun gagal sepenuhnya menjadi malam.
Di zaman modern, kita hidup dalam ironi yang kian terasa namun jarang disadari: kesibukan dipuja, kelelahan dinormalisasi, dan pencapaian dijadikan tolok ukur harga diri. Produktivitas menjadi mantra, sementara manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri. Kita bangga disebut sibuk, tetapi diam-diam rapuh. Kita tidur cukup, namun bangun tanpa daya. Kita beristirahat, tetapi tak pernah benar-benar pulih.
Rested? Sure. Recovered? Not even close.
Paradoks inilah wajah peradaban kontemporer. Dunia bergerak semakin cepat, target kian agresif, ritme hidup semakin padat. Namun, di balik semua itu, manusia justru tertinggal dari fitrahnya. Kita lupa bahwa sebelum menjadi subjek ekonomi dan mesin capaian, manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan dengan irama: ada waktu bekerja, ada waktu berhenti.
Istirahat dalam Perspektif Ilahi
Petunjuk ilahi sejak awal telah memberi keseimbangan yang jernih.
“Wa ja‘alnâ an-nahâra ma‘âsyâ, wa ja‘alnâ al-laila libâsâ”: Kami jadikan siang untuk berusaha, dan malam sebagai pakaian/waktu istirahat (QS. An-Naba: 10–11).
Ayat ini bukan sekadar deskripsi kosmologis, melainkan prinsip peradaban. Siang adalah ruang ikhtiar, malam adalah ruang pemulihan. Kerja dan istirahat bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan satu kesatuan yang menopang kemanusiaan. Ketika salah satunya diingkari, manusia kehilangan keseimbangan, bahkan kehilangan makna hidupnya.
Namun modernitas menggeser pemahaman ini. Istirahat direduksi sebatas tidur. Padahal tidur hanyalah satu pintu kecil dari kebutuhan pemulihan manusia yang jauh lebih luas. Inilah yang kemudian menjelaskan keganjilan zaman ini: mengapa seseorang tetap lelah meski tidur cukup, mengapa stres bertahan walau jam kerja berkurang.
Tidur Saja Tidak Pernah Cukup
Riset ilmiah mutakhir memperkuat kegelisahan tersebut. Dr. Saundra Dalton-Smith, melalui kajian lintas disiplin kesehatan dan psikologi, menunjukkan bahwa manusia membutuhkan tujuh jenis istirahat agar benar-benar pulih dan mampu bertumbuh. Kelelahan bukan semata persoalan fisik, melainkan fenomena multidimensional.
Pertama, istirahat fisik, ketika tubuh memberi sinyal lewat pegal, lelah, dan gangguan kesehatan.
Kedua, istirahat mental, ketika pikiran diberi ruang untuk berhenti sejenak dari beban keputusan dan tuntutan.
Ketiga, istirahat sensorik, sebagai respons atas dunia yang terus berbunyi, menyala, dan menuntut perhatian.
Keempat, istirahat kreatif, untuk memulihkan daya imajinasi, rasa takjub, dan inspirasi.
Kelima, istirahat emosional, agar manusia tidak terus-menerus memikul beban perasaan orang lain.
Keenam, istirahat sosial, dengan menata ulang relasi yang menguras dan mendekat pada yang menguatkan.
Ketujuh, istirahat spiritual, yaitu keterhubungan dengan makna, nilai, dan tujuan hidup yang melampaui diri.
Ketujuh makna ini menegaskan satu hal penting: kelelahan personal sering kali merupakan gejala dari peradaban yang tidak sehat.
Kesehatan sebagai Fondasi Peradaban
Dalam konteks inilah visi Ma’had Al Zaytun menemukan relevansinya yang mendalam: pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi. Kata sehat ditempatkan di depan bukan tanpa alasan. Sebab mustahil membangun toleransi dan perdamaian dari manusia yang lelah secara fisik, mental, dan spiritual.
Masyarakat yang sehat melahirkan pikiran jernih, emosi stabil, dan relasi sosial yang beradab. Sebaliknya, masyarakat yang lelah mudah terpolarisasi, mudah tersulut, dan rentan konflik. Dengan demikian, kesehatan bukan isu individual semata, melainkan fondasi kebudayaan dan peradaban.
Trilogi Kesadaran dan Etika Istirahat
Gagasan trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, memberi bingkai refleksi yang utuh terhadap persoalan kelelahan manusia modern.
Kesadaran filosofis mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi. Ia makhluk bermakna yang membutuhkan jeda untuk merenung dan mengenali dirinya. Tanpa jeda, manusia kehilangan arah dan tujuan.
Kesadaran ekologis menegaskan bahwa alam pun memiliki ritme: ada siang dan malam, ada musim tumbuh dan musim rehat. Ketika manusia menolak istirahat, sejatinya ia sedang melawan hukum semesta dan menciptakan ketegangan ekologis dalam dirinya sendiri.
Kesadaran sosial menunjukkan bahwa manusia yang lelah mudah kehilangan empati. Ia cepat marah, mudah curiga, dan sulit mendengar. Istirahat, dalam konteks ini, bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan tanggung jawab sosial.
Pancasila dan Kemanusiaan yang Beradab
Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menuntut pengakuan atas martabat manusia. Memanusiakan manusia berarti menghormati batas biologis, psikologis, dan spiritualnya. Budaya kerja yang meniadakan istirahat sejatinya adalah praktik yang tidak beradab.
Di sinilah moto Politeknik Tanah Air, yaitu “menanam kesadaran-menumbuhkan kemanusiaan” , menjadi sangat relevan. Kesadaran akan pentingnya istirahat menumbuhkan manusia yang lebih sehat, jernih, dan berbelas kasih. Dari sanalah kemanusiaan yang adil dan beradab dapat bertunas.
Berani Berhenti untuk Tetap Menjadi Manusia
Sudah waktunya kita berhenti memuliakan kelelahan. Dunia tidak membutuhkan pahlawan yang hangus terbakar oleh ambisi. Dunia membutuhkan manusia yang utuh.
Keluarga membutuhkan kehadiran, bukan sekadar keberadaan.
Tim membutuhkan energi, bukan sekadar target.
Pekerjaan membutuhkan kejernihan, bukan sekadar jam kerja panjang.
Dan semua itu bermula dari keberanian yang sering diremehkan: berani berhenti sejenak.
Sebab merawat diri bukanlah egoisme. Ia adalah syarat dasar untuk tetap menjadi manusia yang sehat, cerdas, dan manusiawi di tengah peradaban yang terlalu sibuk untuk mendengarkan dirinya sendiri.*
Indonesia, 7 Februari 2026
——
![]()
