Spiritualitas Membebaskan Diri Dari Ketergantungan Pada Material Yang Memperbudak dan Memperburuk Manusia


Spiritual Membebaskan Diri Dari Ketergantungan Pada Material Yang Memperbudak dan Memperburuk Manusia

*Jacob Ereste, Wartawan Lepas


Kesadaran sebagai langkah awal memasuki wilayah spiritual memang bisa dimulai dari dalam diri sendiri, karena keistimewaan spiritualitas bangsa Timur — utamanya dari Nusantara — adalah memasuki ke kedalaman jiwa atau batin yang paling dalam — untuk merenungkan tentang keberadaan dari diri sendiri sebagai manusia — khalifatullah — di muka bumi dengan segala sifat keunikan yang melebihi makhluk lain. Apalagi kemudian diberi kemampuan untuk mengembangkan segenap potensi diri yang dikaruniai oleh Tuhan sungguh istimewa dibanding makhluk yang lain sebagai ciptaan-Nya.

Sebagai makhluk yang mampu berpikir dengan kepekaan sejumlah panca indra yang bisa berlebih untuk dibudidayakan jelas merupakan karomah yang tiada tara sandingannya.

Dalam.oerspektif Islam, karomah dapat dipahami sebagai kemampuan luar biasa atau keajaiban yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia yang saleh seperti seorang wali atau mereka yang memiliki tingkat spiritual yang mumpuni. Sehingga memberi kemampuan pada seseorang dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa dimengerti, kecuali hanya melalui kemampuan spiritual. Karomah itu bisa seperti kemampuan mengobati suatu penyakit, memprediksi suatu kejadian yang bakal terjadi pada esok hari dan pada masa depan. Kamampuan berbicara dengan binatang atau manusia yang telah mati dan seterusnya yang sulit dijelaskan secara akademis maupun akal sehat.

Karomah itu sendiri dalam Islam dipercaya sebagai bagian dari kebesaran Allah. Membuktikan adanya kehidupan setelah kematian bagi manusia yang tidak dialami oleh makhluk lain ciptaan Tuhan. Todak seperti Malaikat, Iblis dan Syaitan maupun hewan.

Meski begitu, ada saja manusia yang memiliki sifat yang cukup dominan dekat dengan makhluk lainn. Termasuk kesucian seperti yang melekat pada sifatnya Malaikat, krjahatan yang setara Iblis dan Syaitan, atau sekedar nafsu dan kerakusan seperti hewan atau binatang yang ada juga di dunia. Kesadaran pikiran bahwa sebagai manusia yang dikaruniai oleh Alllah sebagai khalifatullah di muka bumi, maka sepatutnya kemampuan untuk mengembangkan potensi diri yang luar biasa dapat dilakukan dan terus terjaga intensitasnya. Sehingga bisa selalu mengingatkan bahwa sebagai manusis sesungguhnya memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan melindungi bumi serta makhluk lain yang dapat mendatangkan manfaat bagi hidup dan hehidupan dapal arti lahir maupun batin.


Begitulah kesadaran yang harus terasah dan terus dijaga agar dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan spiritual untuk menjaga keseimbangan batin — jiwa atau ruh — bertaut dengan raga serta pola pikir dan rasa hingga kepekaan intuisi serta empati yang mungkin tidak pernah dipikirkan maupun direnungkan sebagai potensi diri yang akan sangat menentuikan kebahagiaan hidup secara lahir maupun batin.

Atas dasar itulah, dimensi spiritual yang memiliki vibrasi dan frekuensi mencapai langit terkesan abai pada hal-hal yang bersifat material, karena spiritual sendiri telah melampaui semuanya itu untuk tidak lagi menjadi beban hidup. Sebab materi itu hanyalah sekedar sarana hidup yang tidak pokok. Artinya, esensi spiritualitas diantaranya adalah untuk membebaskan diri dari sifat dan sikap kemanusiaan dari ketergantungan pada materi yang memperbudak dan memperburuk sifat dan sikap kemuliaan manusia yang sejati.***


Cilegon, 4 Februari 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!