Ketika Dunia Berkhotbah Damai, Tetapi Menabur Hegemoni
(Refleksi Hari Persaudaraan Manusia Internasional)
Oleh: Dr.Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME
Dunia hari ini penuh paradoks. Perdamaian dielu-elukan di mimbar-mimbar internasional, tetapi pada saat yang sama lahir wajah baru kolonialisme. Halus, modern, dan berbalut narasi stabilitas global. Negara-negara kuat berbicara tentang menjaga tatanan dunia, namun justru mencampuri, menekan, bahkan menganeksasi negara lain yang berdaulat. Atas nama perdamaian, tindakan yang diambil sering kali justru menyalakan api perpecahan.
Di tengah realitas yang timpang itulah, dunia menetapkan satu hari khusus untuk mengingatkan kembali makna paling mendasar dari kemanusiaan: persaudaraan.
Setiap 4 Februari, dunia memperingati Hari Persaudaraan Manusia Internasional (International Day of Human Fraternity), sebuah inisiatif global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi A/RES/75/200 pada 21 Desember 2020. Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa konflik global bukan semata persoalan politik atau ekonomi, melainkan krisis cara pandang manusia terhadap sesamanya.
Fondasi moral hari besar ini berakar pada Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani pada 2019 oleh Paus Fransiskus, Sheikh Ahmad Al-Tayeb, serta para pemimpin agama dunia. Dokumen itu menegaskan satu pesan sederhana namun revolusioner: perdamaian tidak mungkin lahir dari dominasi, melainkan dari dialog dan kerja sama lintas iman serta budaya.
Tema tahun 2026, “Dialogue, Not Division” (dialog, bukan perpecahan) menjadi kritik halus sekaligus cermin tajam bagi dunia. Saat banyak negara memilih kekuatan militer dan tekanan ekonomi, PBB justru mengajak umat manusia kembali duduk bersama, saling mendengar, dan saling mengakui.
Peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional di berbagai negara diwujudkan melalui dialog lintas agama, kegiatan sosial kemanusiaan, diskusi publik, hingga perayaan budaya yang merayakan keberagaman . Namun, di Indonesia, nilai-nilai itu tidak hanya hadir dalam seremoni tahunan.
Di Al Zaytun, persaudaraan manusia bukan agenda musiman, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Dengan visi sebagai pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi, Al Zaytun mempraktikkan toleransi sebagai laku hidup, bukan sekadar wacana.
Pada momen-momen besar seperti peringatan Muharram, Al Zaytun menghadirkan pertemuan lintas agama. Tokoh-tokoh iman bertemu bukan untuk saling menghakimi, tetapi untuk berdialog. Perbedaan tidak diseragamkan, melainkan dirawat. Di ruang-ruang seperti inilah, para pelajar belajar bahwa toleransi bukan teori di buku pelajaran, melainkan pengalaman yang dialami dan kemudian diwariskan.
Ketika dunia global kerap terjebak dalam politik pecah-belah, Al Zaytun justru menanamkan nilai kebersamaan sejak dini. Ketika kekuatan besar mengklaim perdamaian sambil memaksakan kehendak, Al Zaytun membuktikan bahwa perdamaian sejati lahir dari penghormatan dan kesediaan untuk mendengar.
Pada akhirnya, Hari Persaudaraan Manusia Internasional bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang gemar mendominasi, selalu ada ruang-ruang kecil yang setia memanusiakan manusia. Dan dari ruang-ruang itulah, harapan tentang dunia yang lebih adil dan damai terus menyala.
Indonesia, 4 Februari 2026
——–
![]()
