Seni Pewayangan Mengusung Nilai-nilai Spiritual Berperan Bagi Kejayaan Kerajaan Mataram Islam di Nusantara
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Seni pewayangan dapat dipahami sebagai media pendidikan etika moral yang terangkum dalam spiritual untuk memahami dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Karena sebagai seni pertunjukan, muatan nilai pewayangan itu mereflesikan kehidupan manusia sehari-hari deksligus cara menghadapi dinamika kehidupan yang datang maupun yang pergi, hingga mungkin tidak akanpernah terjadi lagi. Tapi, realitasnya tidak sedikit peristiwa yang kembali terulang, sehingga memerlukan kedabarn dan ketabahan bagi manusia yang mengalaminya.
Peran penting seni pewayangan sebagai media pendidikan etika, moral dan spirityal merefleksikan kehidupan manusia dalam perilaku sehati-hari yang masih tetap relevan untuk memahami dan menghsyati nilai-nilai luhur yang lebih baik untuk dicontoh atau perilaku yang buruk dari berbagai tokoh pewayangan yang dianggap buruk. Dari berbagai pengamatan dan penelusuran, pelajaran terpenting yang dapat dipetik dari seni pewayangan adalam mendapat jeseimbangan antara yang baik dengan yang buruk atau jahat serta pentingnya menjalankan dharms — kewajiban dan tanggung jawab — dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sehingga pelaran yang baik dari seni pewatangan dapat membantu mamusia menjadi lebih bijak dan mampu melakukan keseimbangan dalam kehidupan.
Syahdan, seni pewayangan sudah ada jaman Majapahit (1293-1520) sebagai sarana menyebarkan agama Hindu dan Buddha serta hiburan untuk masyarakat. Setidaknya, ketika itu sudah ada sejumlaj relief di Candi Penataran yang menggambarkan adegan dalam seni pewayangan. Namun seni pewayangan diyakini oleh banyak orang sebagai ciptaan Sunan Kalijaga pada abab ke-15. Namun banyak juga yang percaya bahwa Sunan Kalijaga hanya memanfaatkan dan mengembangkan seni pewayangan yang sudah ada jauh sebelum masanya.
Setidaknya, senin pewayangan bagi Sunan Kalijaga telah digunajan sebagai sarana dakwah agama Islam di Jawa. Sehingga ajaran serta tuntunan Islam yang mengandung muatan etika, moral dan spiritual yang sangat diperlukan untuk menjadi pegangan setoap manusia. Begitulah akhirnya peradaban Islam mewarnai bagkitnya Kejayaan Mataram Islam di Nusantara.
Watak dan karakter hingga perangai dari berbagai model dan sosok manusia dapat diketahui lewat nama sejumlah tokoh wayang yang ditampilkan lewat seni pertunjukan wayang. Mulai dari Bhisma, Arjuna, Abimanyu, Hanoman, Yudhistira, Krisna hingga Sengkuni, Aswatama, Dursasana, Duryodana, termasuk Gareng, Petruk, Bagong dan Semar memiliki karakter dan watak yang khas yang dijadikan padanan bagi manusia di abad modern sekarang ini. Dan setiap orang dapat bercermin untuk melihat sosok dari dirinya sendiri, kalau masih ada sisa dari kejujuran yang tersimpan di dalam hati.***
Sunter, 30 Januari 2026
——–
![]()
