SEJARAH KEDATANGAN SUKU MELAYU DAN ETNIS TIONGHOA DI PULAU KALIMANTAN
Oleh : Hamly Hadi
Pemerhati Sejarah
1.Kedatangan Suku Melayu tahun 1511 Masehi
Suku Melayu lahir di kerajaan Malaka pada tahun 1406 setelah Prameswara dan pengikutnya masuk Islam, kemudian Pada Tahun 1511 Malaka diserang oleh Portugis sehingga orang orang Melayu banyak yang meninggalkan Malaka lari ke berbagai wilayah seperti ke Kelantan, Terengganu, Pahang,Pattani,Kedah dan Perak, Riau , Kepulauan Riau, Kalimantan Barat.
Jadi suku Melayu mulai datang ke Kalimantan secara besar besaran dimulai pada tahun 1511 Masehi. Orang Melayu yang datang ke Kalimantan Barat membawa agama Islam, Daerah penyebaran agama Islam melalui aliran sungai Sambas yang juga cikal bakal berdirinya Kesultanan Sambas yang merupakan Kesultanan Islam pertama di Kalimantan Barat, kemudian menyebar ke Singkawang, Mempawah, Pontianak dengan menyusuri sungai Kapuas. Selanjutnya penyebaran agama Islam dilakukan melalui Sungai Landak, melewati Tayan, Sanggau, Sekadau, Sintang dan Nanga Pinoh sampai ke Putussibau. Penyebaran ini berlangsung dari tahun 1550 masehi sampai dengan 1800 masehi. Sebagian suku bangsa dayak di pedalaman Kalimantan Barat yang telah memeluk agama Islam secara langsung mengikuti pola hidup suku melayu dan akhirnya ikut mengaku sebagai orang Melayu.
2.Kedatangan Etnis Tionghoa dimulai tahun 1740 Masehi
Etnis Tionghoa mulai didatangkan ke Kalimantan Barat tepatnya di Mempawah pada tahun 1740 , mereka didatangkan oleh penguasa Mempawah yaitu Daeng Opu Manambun untuk dipekerjakan di pertambangan emas di Mempawah.
Kemudian tahun 1750 penguasa Sambas Sultan Abubakar Kamaluddin juga turut mendatangkan buruh dari Cina untuk mengerjakan pertambangan emas yang banyak terdapat di daerah Monterado (Montraduk), Seminis, dan Lara.
Pada tahun 1764 Sambas kembali mendatangkan lebih banyak orang Cina sebagai pekerja tambang menyusul semakin banyaknya tambang emas baru yang ditemukan di negeri hingga tahun 1767 Jumlah buruh Cina yang bekerja di berbagai tambang emas Sambas melonjak hingga mencapai belasan ribu orang.
Tahun 1770 Orang-orang Cina yang menjadi pekerja tambang emas di Sambas dan Mempawah mendirikan kongsi dagang Thaikong (Fosjoen) dan Lanfang, serta beberapa kongsi kecil lain yang menjadi bawahan keduanya, salah satunya bernama Samtiaokiu. Mereka mendapatkan hak otonomi dan tetap diwajibkan membayar upeti, masing-masing terhadap Sultan Sambas dan Mempawah.
Banjarmasin, 27 Januari 2026
Referensi :
1.Ahyat. Ita Syamsiyah. 2005. Dinamika dan Pengaruh Budaya Melayu Di Kalimantan Barat. Prosciding International Conference Indonesia Studies
2.Yusriadi. 2018. Identitas Dayak dan Melayu Di Kalimantan Barat. Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo. IAIN Pontianak
——
![]()
