Pesantren dan Ekonomi Bangsa: Solusi Masa Depan Indonesia
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.
Indonesia sedang berpacu dengan waktu. Di tengah bonus demografi yang kian menua, kualitas sumber daya manusia justru tertinggal. Teknologi melesat, ekonomi global bergejolak, sementara pendidikan nasional masih berkutat pada angka-angka yang memprihatinkan. Di titik inilah sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah Indonesia punya model pendidikan yang cukup kuat untuk menyelamatkan masa depannya?
Pertanyaan itu mengemuka dalam Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun yang digelar pada 25 Januari 2026. Mengusung tema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad 21 dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia,” forum ini tidak berbicara teknis semata, melainkan menyentuh jantung persoalan bangsa: arah pembangunan manusia Indonesia.
Pada pekan ke 34, hadir sebagai narasumber, Prof. Setyo Tri Wahyudi, SE. M.Ec. Ph.D., Guru Besar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UNIBRAW). Beliau menyampaikan pesan tegas dan berbasis data. Tema yang diangkatnya lugas sekaligus menantang arus utama kebijakan: “Pesantren sebagai Penggerak Ekonomi Nasional” .
Data yang Tidak Bisa Dinegosiasikan
Paparan dibuka dengan realitas yang sulit dibantah. Hasil asesmen internasional, PISA, indikator pembangunan manusia, hingga rata-rata lama sekolah menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal bahkan di tingkat regional. Masalahnya bukan sekadar peringkat, tetapi mutu.
“Ekonomi tidak digerakkan oleh angka semata, tetapi oleh kualitas manusianya,” tegasnya. Negara tanpa sumber daya alam bisa melompat jauh jika serius membangun SDM. Singapura dijadikan contoh nyata: kecil secara wilayah, minim sumber daya, tetapi unggul karena investasi besar pada manusia.
Indonesia, menurutnya, tidak kekurangan potensi. Yang kurang adalah konsistensi dan keberanian memilih model pendidikan yang tepat.
Pesantren: Model yang Diabaikan
Di tengah kegamangan itu, pesantren dan pendidikan berasrama justru menyimpan jawaban strategis. Bukan sebagai simbol tradisionalisme, melainkan sebagai model pendidikan masa depan.
Pesantren, kata prof. Setyo, bukan sekadar tempat tinggal siswa. Ia adalah sistem yang memungkinkan pendidikan berjalan utuh: akademik, karakter, spiritualitas, disiplin, dan kemandirian ekonomi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Berbeda dengan pendidikan non-berasrama yang kerap terfragmentasi, sistem asrama memastikan pembentukan manusia berlangsung terus-menerus. Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan.
Dari Pendidikan ke Mesin Ekonomi
Yang kerap luput dari perbincangan publik, pesantren juga memiliki daya ungkit ekonomi yang besar. Ribuan santri, tenaga pendidik, wali, dan aktivitas rutin menjadikan pesantren pusat perputaran ekonomi lokal.
Unit usaha pendidikan, kewirausahaan santri, pertanian produktif, penginapan, hingga jasa pendukung dapat menciptakan multiplier effect yang nyata. Pendidikan tidak berdiri terpisah dari ekonomi, tetapi menjadi fondasi ekonomi itu sendiri.
“Pesantren yang dikelola dengan visi ekonomi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi menciptakan ekosistem,” ujarnya. Ekosistem inilah yang mampu melahirkan kemandirian, inovasi, dan keberlanjutan.
Menyongsong 100 Tahun Indonesia
Pelatihan ini menjadi sinyal penting bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan setengah hati dalam pendidikan. Menuju Indonesia abad 21 dan satu abad kemerdekaan, transformasi harus bersifat sistemik dan berani.
Pesantren dan pendidikan berasrama, jika diposisikan sebagai strategi nasional, bukan hanya solusi pendidikan, tetapi juga jawaban atas stagnasi ekonomi dan ketimpangan wilayah.
Taruhannya jelas: memperkuat pendidikan berasrama berbasis pesantren, atau tertinggal dalam kompetisi global. Dalam forum ini, pesan itu disampaikan tanpa basa-basi: Indonesia harus memilih, sekarang.**
Indramayu, 25 Januari 2026
——-
![]()
