Isra’ Mi’raj, Ekoteologi, dan Tanggung Jawab Peradaban
Oleh Ali Aminuloh
Isra’ Mi’raj kerap dikenang sebagai peristiwa langit, sebuah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW menembus batas ruang dan waktu. Namun di tengah dunia yang gaduh oleh konflik, krisis lingkungan, dan kemerosotan etika publik, Isra’ Mi’raj sesungguhnya sedang mengajak manusia untuk menoleh kembali ke bumi. Sebab setiap kenaikan spiritual selalu berakhir pada satu pertanyaan mendasar: apa yang kita lakukan setelah kembali?
Dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Masjid Istiqlal, Menteri Agama Republik Indonesia menyampaikan pesan yang menohok kesadaran kolektif bangsa. Ia menekankan pentingnya ekoteologi yaitu cara pandang keagamaan yang menempatkan alam sebagai bagian dari amanah ilahiah. Indonesia, ujarnya, adalah lukisan Tuhan; sebuah mahakarya ciptaan yang tidak boleh dirusak, diacak-acak, atau dieksploitasi tanpa nurani. Pesan ini terasa relevan di tengah ironi: negeri yang kaya sumber daya, namun sering abai pada kelestarian; bangsa yang religius dalam ritual, tetapi lalai dalam menjaga lingkungan.
Pesan ekoteologi itu sejatinya sejalan dengan makna filosofis Isra’ Mi’raj. Perjalanan Nabi tidak dimulai dengan langsung “naik ke langit”, melainkan dengan perjalanan horizontal, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sebuah simbol bahwa relasi dengan Tuhan tidak pernah memutus relasi dengan bumi. Spiritualitas yang autentik justru diuji pada bagaimana manusia memperlakukan sesamanya dan lingkungannya. Ketika alam rusak, sesungguhnya yang runtuh bukan hanya ekosistem, melainkan kesadaran manusia itu sendiri.
Dalam konteks global hari ini, krisis kemanusiaan kian nyata. Politik dunia dipenuhi arogansi dan kepentingan sempit, pendidikan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan, dan korupsi menjadi penyakit lintas batas. Alam menjadi korban paling sunyi dari keserakahan manusia. Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik sunyi terhadap peradaban yang terlalu percaya diri pada kemajuan material, tetapi miskin kesadaran moral. Manusia mampu menembus angkasa, namun gagal menjaga hutan; mampu menciptakan teknologi canggih, tetapi abai pada keseimbangan hidup.
Di titik inilah, pemikiran Syaykh AS Panji Gumilang tentang trilogi kesadaran (kesadaran filosofis, ekologis, dan kesadaran sosial) menjadi relevan sebagai kerangka membangun peradaban. Kesadaran filosofis mengingatkan manusia akan makna dan batas hidupnya; bahwa kekuasaan, ilmu, dan teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memuliakan kehidupan. Kesadaran ekologis menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai mitra yang harus dirawat. Sementara kesadaran sosial menegaskan bahwa masa depan peradaban manusia adalah untuk kesejahteraan masyarakat secara luas.
Ikhtiar membangun kesadaran itu tampak nyata di Al Zaytun. Sejak awal berdirinya, kampus ini dikenal menaruh perhatian serius pada kelestarian lingkungan. Pembangunan tidak dilakukan dengan menebang sembarangan, melainkan dengan pendekatan yang menghormati alam. Pohon-pohon yang terdampak pembangunan dipindahkan menggunakan bigjhon, ditanam kembali, dan dirawat. Penghijauan terus digalakkan, ruang hijau diperluas, dan lingkungan kampus dijaga sebagai ruang hidup yang sehat dan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Al Zaytun bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan perwujudan dari kesadaran ekologis yang berangkat dari nilai spiritual dan filosofis. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di lanskap alam yang dirawat. Peserta didik belajar bahwa mencintai Tuhan tidak bisa dipisahkan dari merawat ciptaan-Nya, dan membangun peradaban tidak harus dimulai dengan merusak lingkungan.
Isra’ Mi’raj, dalam konteks ini, menjadi cermin besar bagi bangsa dan dunia. Ia mengajarkan bahwa kenaikan spiritual tanpa tanggung jawab sosial dan ekologis hanya akan melahirkan kehampaan. Peradaban yang benar-benar maju bukan yang paling tinggi gedungnya atau paling canggih teknologinya, melainkan yang paling sadar akan makna hidup, paling adil dalam mengelola kekuasaan, dan paling bijak dalam menjaga alam.
Peringatan Isra’ Mi’raj hari ini adalah undangan reflektif bagi semua elemen bangsa: untuk menata ulang relasi dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan bumi. Sebab Indonesia, sebagaimana dikatakan Menteri Agama, adalah lukisan Tuhan. Dan tugas manusia bukan menodainya, melainkan merawatnya agar tetap indah bagi generasi yang akan datang.***
Indonesia, 16 Januari 2026
——
![]()
