Rasa Syukur Masyarakat Agraris dan Maritim Dalam Bahasa Ucapan Spiritual Yang Lebih Sakral


Rasa Syukur Masyarakat Agraris dan Maritim Dalam Bahasa Ucap Spiritual Yang Lebih Sakral

Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Budaya masyarakat agraris, maritim atau bahari menyatu dengan alam lingkungan dalam bergiat di lahan pertanian, gunung dan laut hingga pantai, sehingga relatif lebih taat pada sunnatullah — hukum alam — yang sepenuhnya milik otoritas Tuhan. Karena itu, sikap menipu, mencuri atau culas seperti berbohong, tipu daya dan ingkar janji bahkan munafik dan khianat cukup minimal mereka lakukan, karena memang harus menghadapi realitas hidup dan kehidupan yang lebih realistik, karena cukup percaya pada ketentuan hukum alam — hukum Tuhan — yang mengandung konsekuensi nyata bagi hidup dan kehidupan mereka sehari-hari.

Kecuali itu, naluri masyarakat agraris dan maritim atau bahari lebih peka mendengar suara alam, bisikan langit bahkan mampu melihat isyarat dari jagat raya yang mengirim angin, hujan dan ledakan petir hingga curah hujan. Katena itu dalam adar istiadat, tradisi bahkan budaya masyarakat agraris dan maritim atau bahari berpegang pada tata nilai kejujuran, kepasrahan, keikhlasan serta kepedulian tidak hanya sesama makhluk — utamanya manusia — tetapi juga terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial, seperti merasa wajib untuk memberi pertolongan kepada siapa saja yang dianggap memerlukan, tidak hanya kepada rakyat yang susah dan miskin, karena bantuan dan pertolongan untuk mereka yang kaya raya bahkan lebih kuat dan mapan diberikan juga saatnya dinggap sungguh sangat diperlukan.

Begitulah tradisi dan budaya dari gotong royong yang sangat luhur dan mulia untuk terus dipelihara agar tetap lestari serta menjadi nilai tambah dari kearifan lokal bagi suku bangsa Indonesia untuk memasuki era global yang semakin rumit dan kompleks tantangan dan rintangannya.

Agaknya dari adat istiadat, tradisi dan budaya suku bangsa Indonesia yang beragam dan majemuk ini ketahanan dan pertahanan budaya bangsa Indonesia dapat semakin kuat dan kokoh dari gerusan atau gesekan budaya asing yang cenderung kapitalistik. Sehingga relatif mampu untuk bertahan dari godaan materialistik dan sikap serta sifat individualisme yang lebih mementingkan duniawi dan dirinya sendiri.

Karena itu masyarakat agraris dan maritim atau bahari relatif memiliki wawasan dan kecerdasan spiritual yang tinggi, relatif lebih dekat dengan Tuhan — apapun dari agama serta kepercayaannya yang diyakininya. Sebab kedekatan dari masyarakat agraris dan maritim atau bahari dengan Tuhan selalu terikat dalam seluruh aktivitas maupun kegiatannya sehari-hari yang berkutat di alam dan lingkungan yang bebas yang diyakini dalam kendali penuh oleh Tuhan. Karena itu, “tradisi sedekah laut” dan sejenisnya yang acap dianggap musyrik itu sesungguhnya ekspresi dari rasa syukur untuk membalas kebaikan Tuhan dalam bahasa yang mampu mereka katakan dengan cara dan pilihan mereka sendiri. Tampaknya, begitulah ekspresi dari rasa syukur masyarakat agraris dan maritim atau bahari di negeri kita ini yang kaya raya akan kearifan lokal yang diekspresikan dalam kecerdasan wawasan serta nuansa spiritual yang sangat luar biasa dahsyatnya.

Realitasnya begitulah rasa syukur masyarakat agraris dan maritim atau bahari menggunakan bahasa ucap spiritual yang lebih sakral dengan melakukan berbagai upacara sedekah laut, sedekah bumi termasuk menyambut musim tanam atau hendak melaut untuk mencari ikan, hampir selalu mengadakan upacara spiritual dan ritual yang sakral agar memperoleh berkah dan keselamatan di dunia maupun di akherat.


Banten, 1 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!