PENDUDUK SEMENANJUNG DARI ZAMAN KE ZAMAN (MALAYSIA)
Oleh : Hamly Hadi
( Pemerhati Sejarah )
1.Penduduk paling Awal datang dari Afrika 60.000 tahun lalu (Teori out of Africa)
Penduduk awal di Semenanjung adalah Orang Asli, yaitu sekelompok penduduk pribumi di Semenanjung Malaysia.
Kelompok-kelompok ini terdiri dari berbagai etnis kecil seperti Negrito seperti Kintak, Lanoh, Jahai, dan Bateq.
Dan senoi seperti Temiar, Semai, Mah Meri, Semaq Beri, Che Wong, dan Jah Jahut.
2.Bangsa Proto-Austronesia datang dari Yunan dan Taiwan 5000 tahun sebelum Masehi (Teori out of Yunan and Taiwan)
Kelompok ini memiliki afinitas yang lebih dekat dengan populasi dari pulau-pulau di Asia Tenggara.
Etnis yang termasuk: Kesui, Temuan, Semelai, Temog, Jakun, Orang Kuala, Orang Seletar, dan Orang Kanaq.
3.Bangsa Austroasiatik datang dari delta sungai Mekong 500 tahun sebelum Masehi
Kelompok ini adalah peradaban awal yang mendiami Kedah, Perak, Terengganu dan Kelantan sebelum kedatangan orang Melayu. Makanya orang orang daerah itu mempunyai logat yang berbeda dengan orang Melayu pada umumnya di Malaka dan Johor.
4.Etnis Tinghoa dari Cina mulai datang abad ke 7 Masehi
Etnis Tionghoa mulai datang ke semenanjung pada Abad ke-7 hingga ke-8 Masehi Meskipun tidak ada bukti kuat mengenai pemukiman permanen dalam jumlah besar pada masa ini, rute perdagangan dari Tiongkok biasanya menyusuri pesisir Indo-Cina, Thailand, dan kemudian Semenanjung Malaya. Kapal-kapal asing, seperti kapal Persia atau India, lebih dominan dalam pelayaran antara pelabuhan Melayu dan Kanton pada awalnya.
Abad ke-9 dan seterusnya Terdapat peningkatan kedatangan etnis Tionghoa di Nusantara (termasuk wilayah Semenanjung Malaya) setelah abad ke-8 karena perubahan sikap pedagang Tiongkok yang lebih banyak melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berdagang.
Dan semakin banyak datang antara abad ke-13 dan ke-17 sangat berasimilasi dengan berbagai aspek budaya Melayu asli dan membentuk kelompok tersendiri yang dikenal sebagai Peranakan di Kelantan dan Terengganu , Baba-Nyonya di Malaka dan Penang.
5.Bangsa Dravida datang dari Tamil Nadu sejak abad 11 Masehi .
Sebelum penjajahan British, orang Tamil sudah terlihat di kepulauan ini jauh lebih awal, terutama sejak masa kerajaan India Selatan yang kuat, yaitu Chola, pada abad ke-11.Dinasti Pallawa dari Tamil Nadu menyebarkan budaya Tamil dan aksara Tamil ke Malaysia. Maharaja Tamil Rajendra Chola I dari dinasti Chola menyerang Sriwijaya pada abad ke-11.
Semenanjung Malaya memiliki budaya Tamil yang kuat pada abad ke-11, dan gild pedagang Tamil didirikan di beberapa lokasi.Pada waktu itu, orang Tamil adalah salah satu kelompok pedagang penting di Asia maritim. Meskipun sebagian besar imigran ini ke Asia Tenggara telah berasimilasi dengan kelompok etnis Melayu mayoritas, beberapa komunitas seperti Chetty Malaka adalah sisa-sisa dari para migran Tamil awal ini.
6.Orang Melayu datang dari Indonesia pada abad 15 Masehi
Setelah Keruntuhan Sriwijaya di pulau sumatera akibat serangan dari Chola, Singasari dan Majapahit secara beruntun maka orang orang keturunan Banjar Sriwijaya migrasi ke semenanjung mendirikan kerajaan Malaka pada tahun 1402 Masehi , inilah awal mula kedatangan orang Melayu secara masif di semenanjung.
Identitas budaya Melayu Mulai wujud tahun 1406 setelah Prameswara dan pengikutnya di Malaka masuk Islam dan bahasa Banjar yang dibawa oleh orang orang Sriwijaya berubah menjadi bahasa Melayu setelah 38 tahun bercampur dengan ratusan macam bahasa yang ada di Malaka, bahasa Melayu mulai wujud tahun 1440 , kemudian Malaka diserang Portugis pada tahun 1511 masehi sehingga banyak orang orang Melayu melarikan diri ke berbagai wilayah di asia Tenggara sehingga menyebarkan agama Islam,budaya Melayu dan bahasa Melayu ke berbagai wilayah di semenanjung, pulau seperti Riau dan sekitarnya serta pulau Kalimantan bagian barat.***
Referensi :
1. Lee 1965 , hlm. 306–314.
2.Wong 2016 , hlm. 9–21.
3.Wade & Chin 2018 , hlm. 249.
4.Studies in Southeast Asian Art: Essays in Honor of Stanley J. O’Connor by Stanley J. O’Connor,Nora A. Taylor p.196
5.Sneddon, James (2003). The Indonesian Language: Its history and role in modern society. Sydney: University of South Wales Press Ltd. hlm. 73.
Banjarmasin Kalsel, 30 Desember 2025
———
![]()
