Perempuan, Peradaban, dan Kekuatan yang Proporsional
(Refleksi Hari Ibu 2025)
Oleh Ali Aminuloh
Sejarah peradaban manusia adalah saksi hidup transformasi posisi perempuan. Kita mengenal pepatah yang sangat mendalam: “Al-mar’atu imadul bilad, idza shaluhat shaluhal bilad, wa idza fasadat fasadal bilad.” Perempuan adalah tiang negara; jika perempuannya baik, maka baiklah negara itu, namun jika perempuannya rusak, maka runtuhlah martabat bangsa tersebut. Dari zaman ke zaman, posisi perempuan telah berevolusi pesat, mulai dari perjuangan otonomi individu, peran strategis dalam keluarga, hingga menjadi penggerak utama di tengah masyarakat.
Mendobrak Diskriminasi dan “Pikiran Ngeres” dalam Ibadah
Namun, ironisnya, “tiang negara” ini sering kali dipersempit ruang geraknya melalui pemahaman keagamaan yang tidak komprehensif. Terjadi diskriminasi sistematis dalam ruang ibadah di mana perempuan selalu ditempatkan di posisi paling belakang dan terisolasi di balik hijab atau tabir yang rapat. Hal ini berakar dari doktrin keliru yang menganggap seluruh keberadaan perempuan, bahkan suaranya adalah aurat.
Pandangan ekstrem ini cenderung mengaitkan segala hal tentang perempuan dengan seksualitas atau “pikiran ngeres,” seolah-olah kehadiran perempuan adalah sumber fitnah yang harus disembunyikan. Padahal, di mata Tuhan, kedudukan manusia adalah sama. Dalam konteks ini, pusat pendidikan seperti Al-Zaytun telah mengambil langkah progresif dengan memberikan kesetaraan nyata. Di sana, terdapat kesejajaran dalam penempatan shaf shalat jamaah, termasuk shalat Jumat. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya objek, melainkan subjek yang memiliki hak dan peran sejajar dalam mendidik dan beribadah.
Akar Perjuangan: Mengapa 22 Desember?
Semangat kesetaraan ini sebenarnya adalah ruh asli dari Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Hari Ibu di Indonesia lahir bukan untuk sekadar merayakan peran domestik, melainkan untuk mengenang bangkitnya kesadaran politik dan sosial perempuan pejuang dalam merebut kemerdekaan dan hak-hak sipil mereka.
Kesetaraan Proporsional dalam Karier dan Kebijakan Dunia
Dalam dunia modern, kesetaraan yang kita tuju adalah kesetaraan yang proporsional. Perempuan hari ini memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus wanita karier atau pekerja. Di negara-negara maju, peran ini didukung sepenuhnya oleh sistem negara. Sebagai perbandingan, negara seperti Swedia memberikan cuti melahirkan hingga 480 hari dengan tunjangan gaji 80%, sementara Norwegia memberikan waktu sekitar satu tahun dengan gaji penuh (100%). Di Inggris, perlindungan karier diberikan selama 52 minggu agar ibu bisa fokus merawat anak tanpa takut kehilangan pekerjaannya.
Indonesia kini mulai berbenah melalui UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) 2024 yang memungkinkan cuti hingga 6 bulan pada kondisi tertentu. Hal ini membuktikan bahwa menghargai ibu berarti memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk mencetak generasi berkualitas tanpa harus mematikan potensi karier dan kontribusi ekonomi mereka.
Filosofi Ibu Jari: Pangkat Tertinggi Kemanusiaan
Kita harus sadar bahwa “Ibu” adalah pangkat tertinggi dari seluruh kebaikan. Itulah mengapa bahasa kita menggunakan istilah Ibu Kota sebagai pusat kekuasaan, Ibu Negara sebagai simbol kehormatan, hingga Ibu Jari atau jempol sebagai simbol keunggulan.
Mari kita lihat filosofi Ibu Jari. Secara anatomi, ibu jari adalah satu-satunya jari yang bisa bergerak secara fleksibel untuk menyentuh dan berkomunikasi dengan keempat jari lainnya. Ia adalah simbol perekat, pengikat, dan penyeimbang. Berbeda dengan Jari Telunjuk yang sering diibaratkan sebagai simbol Bapak atau otoritas yang cenderung memberi instruksi searah dan kaku, ibu jari memiliki keluwesan strategis untuk merangkul semua sisi. Tanpa ibu jari, tangan tidak akan bisa menggenggam dengan kuat. Begitu pula bangsa ini; tanpa peran strategis perempuan, kita tidak akan bisa menggenggam masa depan.
Penutup: Ibu sang Pembentuk Peradaban
Menghormati perempuan bukan sekadar memberikan ucapan setahun sekali, tapi memberikan ruang yang adil di shaf ibadah, di meja pengambilan keputusan, dan di dalam rumah tangga.
Selamat Hari Ibu 2025. “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”. Mari kita muliakan para ibu, karena di tangan merekalah peradaban ini dibentuk dan dijaga kualitasnya.**
Indonesia, 22 Desember 2025
——–
![]()
