Dari Kliwonan Menuju Kesadaran: Al-Zaytun Merawat Tradisi, Menumbuhkan Rasionalitas Iman

Dari Kliwonan Menuju Kesadaran: Al-Zaytun Merawat Tradisi, Menumbuhkan Rasionalitas Iman

Oleh : Khoirun dan Ali Aminulloh

Di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al-Zaytun, malam Jumat Kliwon tidak pernah hadir sebagai bayang-bayang mistik. Ia tumbuh sebagai ruang temu antara tradisi dan nalar, antara iman dan pengetahuan, antara individu dan kebersamaan. Sejak lima belas tahun silam, Al-Zaytun secara konsisten merawat ritual ini, bukan sebagai warisan beku masa lalu, melainkan sebagai urf shahih: budaya positif masyarakat yang dimaknai ulang secara rasional, edukatif, dan mencerahkan.

Malam Jumat Kliwon, 18 Desember 2025, sekitar 50 peserta kembali memenuhi masjid megah itu. Mereka datang dari berbagai satuan pendidikan: tutor PKBM Al-Zaytun, guru PAUD, serta warga belajar Paket A, B, dan C. Tidak ada sesaji, tidak ada simbol-simbol mistik. Yang hadir justru istighosah, tadarus Al-Qur’an, dan percakapan batin yang jujur dengan Tuhan (dzikir) sekaligus dengan diri sendiri.

Ritual yang Berpindah, Makna yang Menetap

Awalnya, kegiatan kliwonan ini dilaksanakan di Masikhah. Namun sejak Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin difungsikan, tempat kegiatan berpindah ke sana. Sistemnya bergilir: setiap kelompoknterdiri dari: guru MI, MTs, MA, dosen dan tendik IAI Al-Azis, serta tutor PKBM dan guru PAUD. Masing masing kelompok mendapatkan giliran dua kali dalam setahun. Pola ini bukan sekadar teknis, melainkan simbol bahwa seluruh ekosistem pendidikan di Al-Zaytun diposisikan setara, saling menopang dalam satu tarikan napas kebudayaan dan keilmuan.

PKBM Al-Zaytun, sebagai bagian pendidikan nonformal, tampil tidak di pinggiran. Ia berada di pusat denyut kegiatan, berdampingan dengan lembaga formal lainnya. Di sinilah Al-Zaytun memperlihatkan wajah pendidikannya: inklusi, adil, dan menyatu.

Dari Stigma Mistis ke Ruang Silaturahmi

Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda, malam Jumat Kliwon kerap diasosiasikan dengan ritual-ritual yang berbau mistik. Al-Zaytun memilih jalan berbeda. Stigma itu diurai, lalu diganti dengan substansi. Yang semula dianggap “gelap”, dijadikan terang; yang dianggap irasional, dipandu menuju pemaknaan rasional-religius.

Istighosah dan tadarus bukan hanya dibaca, tetapi ditadabburi. Peserta diajak memahami makna bacaan, meresapi nilai, dan menautkannya dengan kehidupan nyata. Malam kliwonan pun berubah menjadi sarana komunikasi sosial, yaitu silaturahmi antarguru, tutor, dan warga belajar, serta wahana membangun kebersamaan lintas peran dan usia.

Perempuan, Iman, dan Ketangguhan Sehari-hari

Dalam sambutannya, Kepala PAUD Al-Zaytun, Ustazah Maratu Sholihah, S.Pd.I. menyampaikan apresiasi mendalam kepada warga belajar yang mayoritas ibu rumah tangga—yang tetap setia hadir dan belajar. Sebagian datang dari Kecamatan Haurgeulis, Gantar, bahkan Kabupaten Subang. Jarak dan kesibukan domestik tak menghalangi langkah mereka.

Ia mengingatkan kembali pesan Rasulullah tentang kemuliaan ibu, yang disebut tiga kali sebelum ayah. Penghormatan itu, menurutnya, bukan slogan, melainkan pengakuan atas peran multifungsi perempuan: pengelola rumah tangga, pendidik anak, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Semangat kolektif para ibu ini juga tampak dalam gotong royong menyiapkan kebersihan, konsumsi, dan kelancaran acara—sebuah pendidikan karakter yang hidup, bukan sekadar diajarkan.

Pendidikan sebagai Ekosistem

Sambutan berikutnya disampaikan Khoerun, tutor PKBM Al-Zaytun. Ia menegaskan bahwa Syaykh Al-Zaytun tidak pernah membedakan pendidikan formal, nonformal, maupun usia dini. Semua dipandang sebagai satu ekosistem pendidikan. Karena itu, PKBM, PAUD, hingga perguruan tinggi dilibatkan dalam setiap agenda besar, termasuk Jumat Kliwonan dan simposium ilmiah.

Khoerun juga menyampaikan pesan tentang kolaborasi peran ayah dan ibu dalam membangun keluarga sakinah, serta mengajak warga belajar aktif mengikuti simposium—baik langsung maupun daring—agar dapat belajar dari para profesor dan guru besar yang kompeten. Pendidikan, dalam pandangan Al-Zaytun, adalah dialog terbuka antara iman dan ilmu.

Kliwonan sebagai Jalan Tengah

Acara ditutup dengan hamdalah bersama. Sederhana, namun sarat makna. Di Al-Zaytun, ritual tidak dipertentangkan dengan rasionalitas, dan tradisi tidak dibenturkan dengan kemajuan. Malam Jumat Kliwon dirawat sebagai jalan tengah: menjaga akar budaya, sambil menumbuhkan kesadaran beragama yang sehat, rasional, dan membumi.

Di sinilah Al-Zaytun menegaskan dirinya bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembudayaan nilai—tempat tradisi dimurnikan, iman dicerahkan, dan kebersamaan dirawat sebagai fondasi peradaban.**

Indonesia, 19 Desember 2025
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!