Puisi : MUSIBAH BUKAN HUKUMAN, TAPI JALAN PULANG MENUJU ALLAH SWT


Puisi :
MUSIBAH BUKAN HUKUMAN, TAPI JALAN PULANG MENUJU ALLAH SWT

Karya : TEUKU HUSAINI

Di balik retak bumi yang basah oleh air mata,
kita belajar sebuah rahasia:
bahwa musibah bukan cambuk murka,
melainkan panggilan halus dari langit
yang sering luput kita dengar
di tengah hiruk-pikuk kesombongan manusia.

Ketika rumah hanyut, ketika tanah terbelah,
ketika suara takbir tenggelam oleh deru banjir,
di situlah Allah SWT memanggil:
Kembalilah…
Bukan dengan ketakutan,
tetapi dengan hati yang disadarkan
bahwa dunia ini rapuh, fana, tak punya kuasa apa-apa.

Musibah adalah guru paling keras,
paling pedas,
namun paling jujur.
Ia meruntuhkan ego,
menghancurkan topeng-topeng palsu,
lalu membangunkan jiwa
yang lama tertidur dalam kenyamanan palsu.

Lihatlah para penyintas yang berdiri
di antara puing-puing harapan:
mereka bukan korban,
mereka adalah pahlawan.
Mereka bangkit dari debu
dengan mata merah penuh tekad,
seolah berkata kepada langit:
“Ya Allah, kami tidak menyerah.
Kami kembali kepada-Mu,
dan kami bangkit karena-Mu.”

Musibah bukan hukuman.
Ia adalah jalan pulang—
jalan yang kadang penuh lumpur,
kadang penuh luka,
tapi selalu mengantar
pada cahaya yang tak pernah padam.

Selama nafas masih ada,
selama takbir masih menggema,
selama tangan-tangan saling menggenggam,
umat ini tak akan runtuh.
Meski badai menghantam,
meski banjir mengamuk,
kita tetap berdiri tegak
karena Allah SWT
selalu lebih dekat dari air mata kita sendiri.

Dan di akhir setiap duka,
selalu ada janji:
bahwa siapa yang bersabar
akan diangkat derajatnya,
bahwa setiap luka
adalah pintu menuju rahmat.

Musibah bukan hukuman,
tapi tanda cinta—
cara Allah memanggil kita pulang.

Indonesia, 11 Desember 2025
Nanda
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!