Wisata Edukasi di Kampus Toleransi: Ketika “Odong-Odong” Membawa Mutiara Pra-Sekolah ke Ma’had Al Zaytun

Wisata Edukasi di Kampus Toleransi: Ketika “Odong-Odong” Membawa Mutiara Pra-Sekolah ke Ma’had Al Zaytun

INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Di tengah hamparan tanah Indramayu, Ma’had Al Zaytun tegak berdiri bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai pusat yang mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian sejati. Dengan visinya membentuk masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi, Al Zaytun telah menjelma menjadi episentrum yang memancarkan energi positif, menarik lembaga-lembaga pendidikan di sekelilingnya untuk datang dan belajar.
Kali ini, aura magnetis Al Zaytun berhasil menarik perhatian puluhan lembaga pendidikan pra-sekolah. Mereka adalah anak-anak ceria dari dua kecamatan, Haurgeulis dan Gantar, yang berbondong-bondong datang untuk sebuah “Wisata Pendidikan” yang dijanjikan inspiratif.

Hari Pertama: Jejak Ceria di Atas Odong-Odong

Gelombang pertama kunjungan edukasi ini dimulai pada hari Selasa, 2 Desember 2025. Sebanyak 5 lembaga Raudhatul Athfal (RA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kecamatan Haurgeulis dan Gantar memulai petualangan mereka.
Sebuah pemandangan khas Indramayu tersaji pagi itu: 17 unit odong-odong, kendaraan modifikasi yang penuh warna, mengangkut rombongan kecil dari lima RA, yakni RA Al Khairiyah, RA Darunnajah, RA Al-Ikhlas, RA Mutiara Bunda, dan RA Nurul Hikmah. Totalnya, 208 anak-anak dan 237 orang dewasa (guru serta wali murid) menaiki kendaraan rakyat ini dari RA masing-masing, menuju gerbang agung Al Zaytun.
Tepat pukul 08.45 WIB, mereka tiba di Gerbang Utara. Dipandu oleh Ustaz Gustira dan Ustaz Abinaya, rombongan langsung menuju Wisma Tamu Al-Islah, membagi diri menjadi tiga kelompok kecil.

Pohon Raksasa dan Istana Beras

Sensasi pertama yang dirasakan anak-anak dan para wali murid adalah keindahan lingkungan mahad yang rindang. Pohon-pohon menjulang, kebun yang terawat, dan beragam jenis tanaman menciptakan atmosfer sejuk yang langsung menyejukkan mata dan hati.
Tujuan utama kunjungan adalah memberikan pengalaman nyata, dimulai dari Istana Beras. Di dalam bangunan megah ini, anak-anak terkesima melihat mesin-mesin raksasa dan lumbung-lumbung penyimpanan yang menimbun stok padi dan beras melimpah. “Anak-anak bisa tahu bagaimana proses pengolahan beras yang besar sekali,” ujar Bu Sutinem, salah seorang Guru RA, yang merasa sangat senang bisa memperkenalkan muridnya pada proses penting ketahanan pangan.
Selanjutnya, kekaguman berlanjut saat rombongan tiba di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Salah seorang anak saking takjubnya dengan menara masjid yang tinggi menjulang, spontan menyebutnya sebagai “Monas” (Monumen Nasional), cerminan betapa megahnya arsitektur yang mereka lihat.

Belajar Antri dan Berbagi di Al Akbar

Acara berlanjut di Gedung Al Akbar untuk sesi makan bersama. Di sini, kehangatan kekeluargaan tercipta saat anak-anak menikmati bekal mereka. Kebahagiaan kecil juga tersaji saat pengelola Ma’had menyediakan air isi ulang, membantu rombongan kecil yang kehabisan bekal air minum.
Sesi paling mendidik mungkin terjadi di Toko Al Zaytun. Di sini, anak-anak bukan hanya berbelanja mainan atau makanan ringan, tapi juga belajar nilai-nilai penting:
1. Mereka belajar antri dengan tertib.
2. Mereka belajar mengelola uang dengan berbelanja sesuai dengan uang jajan yang dimiliki.
Namun, indahnya cinta orang tua terlihat jelas, saat beberapa anak dibantu oleh orang tua mereka untuk berbelanja lebih banyak dari bekal uang yang dibawa.

Cita-Cita dari Kaki Wali Santri
Kesan mendalam tidak hanya dirasakan oleh para guru, tetapi terutama oleh para orang tua.
Bu Emah, salah seorang orang tua santri, tak mampu menyembunyikan harapannya. “Saya berharap nanti anak saya bisa sekolah di sini, di Al Zaytun,” ucapnya penuh harap.
Hal serupa disampaikan oleh Bu Nurhayati, wali santri lainnya, yang mengungkapkan kekaguman. “Ini kali pertama saya datang. Sekolahnya lengkap sekali, dari PAUD sampai Perguruan Tinggi ada. Semoga kelak anak saya bisa mengenyam pendidikan di sini.”
Kunjungan pertama yang padat makna ini meninggalkan jejak inspirasi bagi ratusan pasang mata. Ma’had Al Zaytun berhasil menanamkan benih toleransi, kemandirian, dan harapan masa depan yang cerah, mengukuhkan posisinya sebagai kiblat pendidikan yang bukan hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Bu Sutinem berharap, “Semoga ini menjadi agenda rutin ke depannya.” Harapan itu siap disambut, karena besok, Rabu, 3 Desember 2025, gelombang kedua dari 7 RA lain dengan 231 siswa dan 250 pendamping, sudah menanti giliran untuk merasakan inspirasi dari jantung perdamaian ini.**


Dr. Ali Aminuloh, M.Pd.I.ME
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!