Bigjhon, Pahlawan Konservasi: Aksi Nyata Al Zaytun di Tengah Darurat Bencana Ekologis Indonesia

Bigjhon, Pahlawan Konservasi: Aksi Nyata Al Zaytun di Tengah Darurat Bencana Ekologis Indonesia

Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME (Dosen IAI Al-Azis)

Jeritan Hutan dan Ironi Pembangunan Kita

Indonesia, negeri yang terkenal dengan kekayaan hutannya, kini menghadapi kenyataan pahit: darurat bencana ekologis. Setiap hari, kita dibombardir berita tentang banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan yang merenggut nyawa dan merusak ekonomi. Akar masalahnya seringkali tunggal: penebangan liar dan deforestasi yang merusak keseimbangan alam yang telah dijaga selama ribuan tahun.
Di luar sana, pembangunan sering diidentikkan dengan pengorbanan—pengorbanan lahan hijau, pengorbanan pohon-pohon tua, bahkan pengorbanan lapisan top soil yang terbentuk puluhan tahun. Ironisnya, semakin maju kita membangun, semakin rentan kita terhadap amukan alam.
Namun, di tengah krisis ini, sebuah narasi berbeda muncul dari Pondok Pesantren Al Zaytun: sebuah kisah tentang bagaimana pembangunan megah bisa beriringan dengan komitmen konservasi yang mendalam, bahkan melibatkan sebuah mesin raksasa beroda baja yang dijuluki “Bigjhon”.

Bigjhon: Ketika Teknologi Bertemu Etika Lingkungan

Bigjhon bukan sekadar ekskavator biasa. Ia adalah mesin pemindah pohon yang telah diangkat menjadi simbol “Pahlawan Lingkungan” di proyek pembangunan Kampus Politeknik Tanah Air (Al Zaytun Indonesia Raya). Kehadirannya menunjukkan sebuah filosofi kepemimpinan yang progresif: pembangunan haruslah bersifat inklusif—tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam.
Tugas Bigjhon adalah memastikan bahwa pohon-pohon yang berada di area pembangunan tidak mati sia-sia. Di banyak lokasi, pohon berdiameter 15-20 cm akan ditebang, akarnya dibiarkan membusuk, dan kayunya mungkin berakhir sebagai material tanpa makna ekologis. Namun, di Al Zaytun, pohon-pohon ini memiliki takdir yang lebih mulia: direlokasi untuk terus tumbuh dan memberikan kehidupan.
Proses yang dilakukan Bigjhon dan timnya adalah sebuah operasi penyelamatan yang menuntut ketelitian tingkat tinggi:
1. Buat Rumah Baru: Bigjhon membuat lubang untuk pohon yang akan di pindah.
2. Galian Akar Presisi: Bigjhon dengan hati-hati menggali dan mengangkat pohon beserta gumpalan tanah di sekitar akarnya. Ini meminimalkan trauma pada pohon, memungkinkan akar-akar penting tetap utuh.
3. Perjalanan ke Rumah Baru: Pohon yang terangkat, kini seperti bayi yang dipindahkan, diangkut ke lokasi baru, di mana lubang tanam sudah dipersiapkan sebelumnya.
4. Hidup Baru: Pohon-pohon itu kemudian ditanam kembali.
Berkat kecermatan ini, pohon yang dipindahkan langsung bisa hidup dan beradaptasi. Hingga saat ini, ratusan pohon jati telah berhasil diselamatkan dan ditanam kembali.
Ini adalah peragaan nyata bahwa teknologi, ketika didorong oleh etika lingkungan, dapat menjadi solusi, bukan sumber masalah.

Top Soil: Harta Tak Ternilai yang Diangkat

Komitmen Al Zaytun terhadap alam tidak berhenti pada pohon. Mereka juga berfokus pada apa yang ada di bawahnya: Lapisan Top Soil.
Syaykh Al Zaytun, dengan visi yang jauh ke depan, menyatakan, “Top soil barang mahal, ia terbentuk puluhan tahun.” Lapisan tanah subur sedalam 0,5 meter ini adalah inti dari kesuburan lahan, tempat semua nutrisi dan mikroorganisme hidup.
Dalam proyek pembangunan Politeknik Al Zaytun, top soil tidak dibiarkan tertimbun atau hanyut. Tim pengawas memastikan lapisan ini digali secara terpisah. Beribu-ribu meter kubik (M3) top soil yang berhasil diselamatkan kemudian dipindahkan ke area pertanian atau perkebunan Al Zaytun. Tindakan ini adalah pelajaran berharga tentang memuliakan tanah, memastikan kekayaan biologis tetap terjaga dan dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup.

Filosofi Nahniyah dan Visi Ekologis

Semua aksi konservasi ini, mulai dari pengawasan partisipatif oleh tim kelompok pengawas pembangunan, hingga peran vital Bigjhon, didasarkan pada konsep fundamental di Al Zaytun: Konsep Kekitaan atau Nahniyah.
Nahniyah mengajarkan bahwa pembangunan ini adalah milik kita bersama, dan tanggung jawab untuk menjaganya, termasuk lingkungannya, juga milik kita semua. Ini adalah pembangunan inklusif yang melibatkan civitas Al Zaytun dari PAUD, Pelajar dasar menengah IAI, hingga alumni untuk memastikan bahwa setiap galian, setiap pemindahan pohon, dan setiap top soil yang terselamatkan, adalah cerminan dari komitmen kolektif.

Refleksi Mendalam: Membangun dengan Hati, Merawat dengan Aksi

Kisah Bigjhon dan konservasi di Al Zaytun adalah sebuah antitesis yang inspiratif. Di saat dunia luar sering menganggap bahwa pembangunan hanya bisa dicapai melalui pengorbanan brutal terhadap alam, Al Zaytun menunjukkan jalan ketiga: pembangunan yang bijaksana, beretika, dan berkelanjutan.
Ini adalah seruan bagi kita semua. Visi agung tentang mencintai lingkungan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata. Ini mengajarkan kita bahwa menghormati pohon dan tanaman sebagai ciptaan Ilahi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia adalah fondasi peradaban yang sejati.
Bigjhon mungkin hanyalah sebuah mesin, tetapi ia adalah pengingat yang kuat: teknologi dan kemajuan haruslah digunakan untuk melayani kehidupan, bukan menghancurkannya. Kita semua, dalam peran apa pun, memiliki tanggung jawab untuk menjadi “Bigjhon” di lingkungan kita, menjadi pahlawan yang tidak hanya membangun masa depan manusia, tetapi juga memastikan masa depan alam semesta tetap lestari. Inilah warisan paling berharga dari Politeknik Tanah Air.**


Indonesia, 2 Desember 2025
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!