Membaca Lontar dan Kakawin: Menjaga Tradisi Nenek Moyang Bali
Prodi Sastra Jawa mengadakan webinar seri dua pada Rabu 10 September 2025. Kuliah tamu masih mengangkat tema tentang “Tradisi Membaca Lontar dan Kakawin”. Dr. Anak Agung Gde Alit Ceria dan Prof. Yusro Edi Nugroho menjadi narasumber dalam acara ini.
Di Bali, tradisi tulis menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dua pusaka utama dalam tradisi ini adalah Lontar dan Kakawin.
*Lontar: Perpustakaan di Atas Daun*
– Lontar adalah naskah yang ditulis di atas daun lontar yang telah diolah secara tradisional.
– Isinya sangat luas, mencakup agama, filsafat, hukum, obat-obatan, sastra, dan arsitektur.
– Cara membaca lontar membutuhkan konsentrasi dan kelembutan, mencerminkan penghormatan terhadap ilmu yang terkandung di dalamnya.
*Kakawin: Puisi Suara dan Irama*
– Kakawin adalah syair atau puisi epik berbahasa Jawa Kuno yang ditulis dengan metrum India.
– Contoh kakawin terkenal adalah Arjunawiwaha, Bharatayuddha, dan Sutasoma.
– Kakawin dilantunkan atau dinyanyikan dalam bentuk tembang, memperhatikan tiga unsur utama: kemampuan pembacaan, menerjemahkan, dan mendiskusikan makna.
Tradisi ini memiliki fungsi spiritual dan sosial dalam masyarakat Bali, yaitu mempertahankan nilai-nilai agama, etika, dan estetika leluhur. Pemerintah dan komunitas di Bali giat melakukan digitalisasi lontar untuk menyelamatkan fisiknya dan mengajarkan mabebasan dan mabasa kepada generasi muda.
“Keterlibatan semua pihak sangat penting dalam pencapaian pelestarian tradisi ini,” ungkap Dr. Anak Agung Gde Alit Ceria. “Dengan sinergi perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat, gerakan ini dapat menumbuhkan kesadaran berkelanjutan untuk generasi yang peduli kelestarian bumi,” tambahnya.
Melestarikan tradisi membaca lontar dan kakawin berarti menjaga identitas dan roh Bali yang unik.*
Semarang, 11 September 2025
Nur Fateah
Dosen BSJ FBS Unnes
—
![]()
