Benarkah Kita Telah Tersesat Di Jalan Terang? Ayo Cepat Kembali Kepada “Jati Diri Bangsa Dengan Kembali Kepada UUD 1945
Penulis: Gus Badawi
Kerabat Pemimpin Spiritual Nusantara
Pemandangan hari, ini khususnya di negeri tercinta Indonesia dengan ‘Ibu Bumi – Bapa Langit’, yang merana di tengah statusnya sebagai Negara Terkaya, negeri surga ladang Antropologi terbesar di dunia (Joselin De Jong).
Dimana manusia “loss spiritual, loss sistem kontrak sosial berkemanusiaan – berkeadilan – ber-syura demokrasi substansial hikmah kebijaksanaan”.
Loss akhlak etika ‘personal – sosial – semesta’ terutama loss etika sosial (Prof Dr Qodri Azizi), loss ‘tak takut pada Tuhan YME – Allah Swt’ meski beragama ritual tanpa kesalehan sosial (Prof Dr Salim Said, Anwari WMK), masih berkesadaran Tradisional yang Irasional (Prof Dr Soedijato) dengan kesadaran metadunia yang cenderung feodalis (Prof Dr Soedjatmoko).
Elit-elit, utama ulama – cendekiawan yang berkesadaran tak menenyentuh 2/3 Al Quran/Kitab Suci yang berdimensi sosial (Mahatir Muhammad, Prof Dr Ahmad Thayeeb – Rektor Al Azhar, Gus Dur, Gus Emha Ainun Nadjib dkk), yang dengan ‘kacamata kuda – newtonian cartesian – teori tanpa praktek pada Ilmu Sosial- Politik – Ekonomi Berkeadilan – Hukum berkeadilan – Budaya dengan Cipta Rasa Karsa dst’, yang ‘childish – egois – feodalis yang bertakdir sosial buruk’ (Achmad Badawi), “ada hukum tak ada hukuman – bangsa ini penakut karena tidak pernah bertindak pada yang salah” (Mursyid Habib Fakih bin Tahir QS, Gus Dur) dengan “7 Dosa Sosial Mahatma Gandhi”,
Jadi proxi kaum Pemilik Modal mengabaikan negara ‘berkuasa untuk menguasai, lain kata dengan perbuatan’ (Sri Sultan HB X), Kapitalisme Rakus – Tamak telah melahirkan krisis kemanusiaan & peradaban (Paus Franciskus).
Menjajah bangsa sendiri yang jauh lebih berat dari Penjajah Kulit Putih (Bung Karno) dst-dst.
Kemerdekaan baru simbol & fisik ceremonial, tidak membangun – menumbuhkembangkan “nation & character building, menumbuhkembangkan Pohon Peradaban Esoteris – Ruh Nusantara Indonesia” secara nyata, dalam realitas kehidupan “berspiritualitas sejati – bertanah air – bermasyarakat- berbangsa – bernegara – berekonomi kerakyatan yang berkeadilan dst-dst”.
Tinggal kita harapkan pada Pak Presiden Prabowo Subiyanto yang ikhlas buat rakyat (Gus Dur) didukung “komunitas-komunitas berkesadaran” Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu “beserta 7 Pemimpin Agama dalam Gerakan Peduli Indonesia Damai” – Ayah Guru Dr Syaiful Karim – Kang Abu Marlo dkk, para Sejati Nusantara – putra-putra Terbaik Bangsa yang tidak hanya ‘omon omon’, generasi Progressif yang berkesadaran kritis – transformasi sosial holistik – Pembebasan Bangsa Marhaenisme Plus – berorientasi karya ‘kreatif – produktif’, “ABRI-TNI yang selalu berjuang bersama rakyat”, semesta mendukung (Mestakung) dan restu – ridho dari Tuhan YME.*$
Jakarta, 21 Agustus 2025
—
![]()
