Nilai Seni Dan Budaya Yang Adiluhung Untuk Keseimbangan Batin Yang Meranggas
Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Kitab Al Barzanji sebagai karya sastra keagamaan berisi pujian, do’a dan kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, biasanya dibacakan dalam acara maulid — peringatan kelahiran Nabi besar — yang menjadi junjungan umat Islam karena ketauladanannya memberi tuntunan keagamaan, kemasyarakatan dan pemerintahan yang dikenal dengan sistem khilafah.
Sistem khilafah itu adalah konsep kepemimpinan umat Islam yang menggantikan fungsi kenabian dalam urusan menegakkan agama dan mengatur segala urusan di dunia yang mengacu dan disandarkan pada syariat Islam. Intinya konsep khilafah itu bukan sekedar tatanan sistem politik, tetapi wujud dari tanggung jawab bersama untuk menegakkan keadilan, kemaslahatan umat dan moralitas sosial berdasarkan tuntunan dan ajaran Islam yang mengusung rahmatan lil alamin.
Manusia yang telah dikukuhkan oleh Tuhan sebagai Khalifah — wakil Tuhan di bumi — sebagai penerus misik kenabian bertugas untuk menjaga, melanjutkan dan menerapkan nilai-nilai keagamaan yang dibawa oleh Nabi untuk kehidupan umat manusia agar hidup harmoni dengan lingkungan hidupnya — alam semesta — adalah seisinya yang lain, termasuk terhadap semua makhluk yang ada agar bahagia dalam wujud lahir dan batin.
Dalam perspektif ideologis pun, khilafah bertujuan untuk menyatukan umat agar tidak terpecah dan bercerai berai seperti kondisi riil sekarang ini — utamanya di Indonesia yang berjumlah mayoritas — namun terkesan tidak memiliki peran yang dominan untuk kemaslahatan umat. Hasrat agar bersatu dan kompak, bagi umat Islam menjadi sangat penting agar dapat lebih berperan dalam menentukan kebijakan berbangsa dan bernegara di negeri ini.
Mulai dari kekuatan ekonomi — sekiranya mau dirinci dari kemampuan untuk mengumpulkan dana impak atau sedekah sebesar Rp 10.000 saja dari setiap umat Islam di Indonesia — maka dana yang terhimpun sekali putar dapat membangun sebuah masjid atau sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang dicita-citakan dalam proklamasi bangsa Indonesia sejak 80 tahun lalu.
Penganut agama Islam di dunia setelah Kristen sekitar 2,46 milyar orang, agama Islam menempati urutan kedua dengan jumlah pemeluk 1,801 milyar orang. Untuk Indonesia sendiri, jumlah umat Islam tercatat 245.973.925 jiwa. Jauh melampaui umat beragama yang lain seperti Kristen dan Katolik yang digabungkan hanya sekitar 29,5 juta. Jadi masalahnya sekarang, apakah kuantitas sebesar itu jumlahnya umat Islam di Indonesia sebanding dengan kualitas yang mampu dilakukan untuk kemaslahatan umat ?
Pertanyaan penting ini bisa diusut mulai dari kiprah dalam bidang ekonomi, politik, budaya dan aktivitas serta kegiatan sosial yang bisa dan mampu untuk dilakukan. Atau memang tidak bisa dilakukan karena berbagai alasan internal hingga hambatan dari eksternal akibat dari sistem tata kelola bangsa — dalam pengertian sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya — yang tidak mampu maksimal dilakukan.
Jadi kalau bisa mengacu pada potensi umat Islam di Indonesia yang mayoritas jumlahnya, minimal akan mayoritas pula peran dan kiprahnya dalam upaya membangun bangsa untuk memperkuat posisi negara bersanding sekaligus bersaing dengan seluruh negara-negara maju yang ada di dunia ini.
Karena itu, memiliki potensi umat Islam sendiri yang cukup besar dan kuat, bisa dilihat dari perspektif seni dan budaya Islam yang terkesan semakin terpuruk, terkesan tidak memiliki energi dan daya tarik untuk dikembangkan mulai dari usaha mengapresiasi karya seni Islami yang telah ada,hingga upaya untuk menciptakan bentuk dan modelnya yang baru agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. Karya-karya seni Islamis — seperti yang termuat dalam Kitab Al Barzanji — patut ditampilkan dan diapresiasi dalam bentuk suasana yang baru, atau dapat ditampilkan untuk membangun suasana kembali suasana masa lalu yang penuh nilai-nilai spiritual guna menciptakan keseimbangan batin yang semakin kosong — tanpa ruh — akibat mabuk oleh teknologi ultra modern yang semakin terasa menyesatkan jalan menuju dunia yang terang untuk pencerahan jiwa manusia semakin tandus.
Setidaknya, keyakinan terhadap para kaum seniman untuk dapat melakukan usaha pencerahan melalui habitat kesenian dan jagat kebudayaan yang lebih luas, sungguh besar adanya pengharapan itu dapat dibangun oleh para seniman dari bilik disiplin keilmuan serta keahliannya masing-masing. Seperti dalam jagat sastra yang maha luas — puisi, cerita pendek hingga seni pembacaan — putri reading — maupun seni penulisan yang lebih kreatif dan edukatif serta intensif — hingga mampu membangkitkan gairah hidup yang lebih baik dan lebih bermutu, mampu untuk merefleksikan kekayaan dan kejayaan suku bangsa Nusantara yang pernah tercatat hebat dalam sejarah.
Macapat, zikir baru, pantun, dan tradisi berkisah secara lisan, memiliki nilai spiritual yang sakral dan patut dilestarikan guna kesetimbangan batin yang kosong karena tergerus dalam kegaduhan jaman yang semakin mengacaukan pandangan hidup yang jernih dan lurus untuk menapaki hidup yang kehilangan arah. Semua karya seni yang adiluhung itu mampu menyegarkan kembali gairah spiritual agar tidak kehilangan orientasi tata kehidupan yang normal, tidak semakin terperosok dalam kerakusan material. Begitulah nilai-nilai seni dan budaya dapat memberi keseimbangan batin dan jiwa yang meranggas. Inilah peran yang patut dilakukan seniman dan budayawan yang tidak sekedar cukup bermanis-manis dan berindah-indah semata.*
Serpong, 10 Agustus 2025
—
![]()
