Laku Spiritual Memang Cenderung Menjauhi Duniawi


Laku Spiritual Memang Cenderung Menjauhi Duniawi

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Banyak orang memang sering mengajukan pertanyaan tentang etika, moral dan akhlak sebagai basis pijakan Spiritual. Karena etika adalah sistem nilai untuk meneropong tentang baik dan buruk perilaku manusia, dan apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi tertentu berdasarkan norma, logika dan pertimbangan moral. Ibarat tiga tungku untuk memasak — etika, moral dan akhlak — bagi manusia tidak dapat diabaikan keterkaitan antara yang satu dengan lainnya, karena diantaranya akan saling melengkapi yang terbingkai dalam satu kesatuan otoritas akhlak yang memiliki jaringan langsung dengan, batin, jiwa dan ruh serta rasa yang mempunyai frekuensi tinggi untuk meramu keputusan yang hendak dilakukan kemudian.

Jika etika dapat dijadikan panduan berpikir yang rasional untuk menimbang kebenaran dan kesalahan, maka nilai-nilai moral akan bertumbuh dan berkecambah dalam budaya dan adat istiadat warga masyarakat untuk berprilaku baik dalam tatanan akhlak yang bersumber dari hati dan serapan pemikiran dalam tuntunan agama. Jadi, sebagai basis spiritual — etika, moral dan akhlak manusia yang terjaga dan terpelihara dengan baik sebagai pagar kesadaran yang berbasis pada spiritual, manusia akan tetap teguh berada pada jalur kebenaran, kebaikan, keadilan dan kemuliaan sebagai khalifatullah — wakil Tuhan — di muka bumi. Maka bumi pun akan bersikap cita dalam kebahagiaan yang harmonis — sebagaimana manusia yang menjunjung langit — sebagai simbolika dari Yang Maha Kuasa atas seluruh makhluk dan seisi bumi lainnya.

Jadi, tanpa kelengkapan tiga pilar dari spiritualitas ini, jalan mendekatkan diri kepada Tuhan bisa kehilangan arah, atau bahkan dapat tersesat, karena hanya akan menjadi formalitas tanpa makna apa-apa. Maka itu, tidak bisa terpisah sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan menggenapkan, karena ketiganya menjadi penopang dimensi batiniah, yaitu jiwa, ruh dan rasa yang menandai kehidupan manusia. Etika sebagai landasan logis rasional tentang hal yang pantas atau tidak pantas, sedangkan moral merupakan norma sosial apa yang baik dan apa yang buruk bagi masyarakat. Dan pada gilirannya akhlak sebagai manifestasi dari segenap rasa serta getaran dari isyarat batin — yang acap didefinisikan oleh para filosof adalah spiritualitas — adalah tindakan nyata yang lahir dari kesadaran yang bersifat ilahiah.

Tungku tiga kaki ini tak boleh satu pun yang goyah, karena ketiga saling terkait dan saling silang untuk menguatkan. Oleh karena itu, keputusan yang dilakukan harus lahir dari harmoni dari ketiga tungku penegak spiritualitas ini, yaitu logika (etika), kesadaran sosial (moral) dan keluhuran jiwa (akhlak mulia) dari manusia yang utuh yang memiliki kebijakan hidup yang sejati, sebagai pengusung rahmatan lil alamin.

Akhlak mulia manusia hanya mungkin terwujud dengan penerapan moral dan etika dalam kehidupan nyata berdasarkan kesadaran batin dan tuntunan agama. Karenanya, karakter, hati nurani dan tanggung jawab sosial akan menjadi cerminan moral yang baik dan terpuji. Karena moral mencakup norma sebagai penakar kebenaran dalam masyarakat. Sehingga segenap tindakan menjadi layak dan pantas dilakukan dengan nilai yang baik dan terpuji. Dan moral itu sendiri dapat menjadi penakar etika dalam menilai perilaku seseorang.

Atas dasar itulah perilaku korupsi — yang umumnya dilakukan oleh pejabat negara — menjadi sangat pantas dikutuk dan mendapat sumpah serapah — agar perbuatannya yang telah membuat rakyat menderita mendapat ganjaran yang setimpal, kalau pun pembalasan yang setimpal itu tidak sempat dia rasakan di dunia, pasti kelak akan hukuman itu akan menderanya di akherat.

Jalan pemikiran serupa inilah yang membuat pelaku spiritual yang sejati tak hendak melakukan kejahatan sekecil apapun. Sebab dia yakin dan percaya bahwa perbuatan yang buruk itu — apalagi dilakukan dengan penuh kesadaran — kelak pasti akan ada ganjarannya. Maka itu, para pelaku spiritual yang sejati lebih tangguh menghadapi kemiskinan dan bisa lebih tegar hidup dalam kesederhanaan. Tidak materialistik atau lebih terkesan menjauh dari hal-hal yang bersifat duniawi.**


Banten, 9 Agustus 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!