Puncak Pendakian Spiritual Tertinggi Mengacu Pada Sidratul Muntaha

Puncak Pendakian Spiritual Tertinggi Mengacu Pada Sidratul Muntaha

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Esensi mi’rat adalah tahapan puncak spiritual tertinggi — jika tidak bisa dikatakan sebagai puncak dari puncak yang tak banyak bisa dicapai oleh banyak orang. Karena proses penyucian jiwa dan meneguhnya hubungan manusia dengan Yang Maha Pencipta dan Penguasa Jagat Raya. Sehingga mi’rat merupakan perjalan dari kegelapan menuju cahaya terang dalam bentuk simbolik perpindahan dari dunia material memasuki wilayah spiritual, seperti perubahan realitas duniawi memasuki kesadaran ilahiah yang sakral sifatnya.

Karena itu, peristiwa mi’rat merupakan isyarat bagi manusia sesungguhnya mampu mencapai tingkat spiritual tertentu menuju cahaya Tuhan dengan kesucian hati, penghambaan dan keikhlasan dengan disiplin ruhani yang teruji. Puncak dari mi’rat itu seperti ketika Nabi Muhammad SAW, menerima perintah langsung dari Allah tentang sholat di Sidratul Muntaha. Sehingga menjadi bukti bila manusia dapat bertemu dengan Tuhan.

Begitulah Isra’ dan Mi’rat yang pernah dilakukan Nabi Muhammad, sebagai perjalanan ruhani — tak hanya sekedar perjalanan fisik — sebagai tingkat dari ujud tertinggi dalam capaian spiritual yang mampu dilakukan manusia.

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari dunia ke langit yang ketujuh ini — Sidratul Muntaha — maknanya sangat simbolik, teologis dan spiritual. Demikian juga dalam proses dari hasrat ingin bersyukur seseorang, misalnya sebagai puncak dari kesadaran dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Maha Pengampun bagi manusia yang ingin bertobat dan tak hendak mengulangi perbuatan buruk yang pernah dilakukannya. Sehingga logika dari perbuatan buruk yang dilakukan secara berulang kali itu — dapat dipastikan — tidak akan pernah mendapat pengampunan.

Sidratul Muntaha itu adalah suatu tempat di langit yang ketujuh, sebagai batas terakhir dari perjalan terjauh yang pernah dilakukan manusia sekaliber Nabi. Sehingga esensi simbolik dan makna spiritualnya sangat tinggi dan sangat mendalam, dan sulit untuk dapat dilakukan lagi oleh manusia biasa — selain Nabi Muhammad — yang memang mendapat berkah, Wahyu serta kepercayaan khusus sebagai Nabi serta Rasul yang sangat diistimewakan oleh Allah. Artinya, bagi manusia berikutnya cuma bisa sekedar mengendus saja apa yang sudah dilakukan oleh para Nabi — tidak hanya Muhammad SAW — tapi juga tentang mukjizat serta kemampuan para manusia pilihan Tuhan itu yang mendapat syafaat dan kemudian menebarkan syafaat itu untuk pengikutnya yang taat.

Sidratul Muntaha adalah tempat tertinggi dari perjalan spiritual manusia yang mampu mencapainya seperti Nabi Muhammad SAW. Karena selevel malaikat pun tidak dikisahkan dalam berbagai Alkitab tidak mampu memasukkan Sidratul Muntaha yang memiliki makna simbolis dan spiritual. Esensinya Sidratul Muntaha itu menandai batas tertinggi dan terjauh dari capaian spiritual serta pengalaman maupun pengetahuan manusia yang hanya mampu dilakukan dan dicapai oleh manusia sekaliber Nabi Muhammad semata.

Dalam bentuk simbolik, Sidratul Muntaha itu sendiri melambangkan pencapaian tertinggi jiwa manusia mendekati ketinggian Tuhan dalam wujud penyerahan total, sehingga akal dan logika manusia pun mentok — terhenti — sehingga yang tersisa hati yang pasrah berserah sepenuhnya kepada Tuhan.

Momentum saat Nabi Muhammad SAW menerima langsung perintah perintah dari Allah ini mengisyaratkan bahwa manusia sesungguhnya dapat serta mampu untuk berhadapan langsung dengan Tuhan.

Isra’ mi’rat sendiri esensinya adalah semacam bukti nyata dari kesadaran spiritual yang mampu menyentuh langit. Karena itu, mi’raj sebagai puncak dari gerakan perubahan manusia — yang hanya mungkin dicapai dengan jiwa yang suci — melucut semua beban duniawi untuk menyatu dengan Sang Maha Cahaya. Penerang jagat. Sehingga dalam pemahaman suatu keyakinan yang disebut dalam satu kalimat sakral, yaitu “manunggaling kawulo lan gusti”. Hanya karena keterbatasan dalam pemahaman maupun penafsiran, makna dari “manunggaling kawulo lan gusti” ini tidak mampu untuk dipahami sebagai bentuk kedekatan manusia dengan Sang Maha Pencipta. Jadi, harus dapat dipahami bahwa yang mencipta, tidak mungkin sama atau setara dengan apa yang diciptakan itu.

Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam perspektif spiritual menyingkap rahasia terdalam dari hubungan manusia dengan Tuhan. Simboliknya semacam perjalanan batin dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang. Begitulah hakikat mi’raj isyarat bagi manusia bahwa sesungguhnya setiap insan memiliki potensi — pemberian Tuhan — untuk mencapai puncak-puncak spiritual yang bercahaya terang.

Dari sudut pandang simbolik, peristiwa Isra’dan mi’raj adalah isyarat dari kebangkitan ruh — dari bumi baik ke langit — melampaui tujuh lapis batas hingga berada pada puncak perjalanan spiritual yang paling sakral. Dan upaya manusia hanya mampu mencium aroma Sidratul Muntaha sambil terus mengintip dengan zikir dan wirit sebagai penyampul do’a.

Begitulah syafaat — perantara — melalui permohonan ampun dan do’a untuk memperoleh berkah Allah. Termasuk hubungan spiritual manusia dengan para rasul yang terjalin dalam ikatan ruhani yang selalu terjaga dan terus dipelihara dengan segenap kerendahan hati serta keyakinan bahwa Rahmat Allah sungguh lebih luas dari sekedar hitungan amal.*


Banten, 8 Agustus 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!