Wamena Hening Di Hari Pertobatan: Langkah Pemerintah Menuju Kota Damai

Wamena Hening Di Hari Pertobatan: Langkah Pemerintah Menuju Kota Damai


WAMENA,JAYAWIJAYA-JAYA NEWS.COM — Suasana berbeda menyelimuti Kota Wamena hari ini,Kamis 31 Juli 2025. Aktivitas masyarakat nyaris tak terlihat. Jalanan sepi, pertokoan tutup, dan bangunan-bangunan pemerintah tampak hening tanpa rutinitas seperti biasanya. Kota yang biasanya ramai kini seperti mengambil waktu untuk beristirahat dan merenung.

Hanya suara burung dan angin yang terdengar di sela-sela pepohonan dan sela bangunan. Kondisi ini bukan akibat gangguan keamanan, melainkan bagian dari sebuah kebijakan pemerintah daerah: Hari Pertobatan dan Rekonsiliasi, yang ditetapkan setiap tahun pada akhir bulan Juli oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

Kebijakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat, termasuk kalangan muda yang melihatnya sebagai langkah visioner untuk menciptakan kedamaian berkelanjutan di Wamena.

“Kami, Pemuda Lapago, sangat mendukung program Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam menetapkan hari rekonsiliasi setiap tahun. Ini merupakan cara bijak menciptakan suasana yang lebih aman dan damai,” ujar Leppy Kogoya, salah satu tokoh pemuda setempat,Kamis (31/07/2025).

Refleksi Kolektif untuk Kedamaian

Penetapan hari hening ini dimaksudkan sebagai momen pertobatan bersama, tempat seluruh lapisan masyarakat dapat merenungkan kembali nilai-nilai hidup berdampingan, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama menjaga kedamaian.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa pendekatan ini bukan hanya simbolik, tetapi bagian dari upaya strategis membangun kembali rasa kepercayaan, solidaritas, dan keamanan sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kota ini dalam beberapa tahun terakhir.

“Kedamaian tidak datang dari luar. Ia lahir dari dalam diri kita sendiri. Kita memulainya dari kita, untuk negeri kita,” kata seorang tokoh Pemuda Lapago Leppy Kogoya di Kelurahan Sinakma-Wamena.

Mendorong Budaya Baru: Diam untuk Damai

Hari Pertobatan yang dilaksanakan secara menyeluruh di Wamena ini juga dimaksudkan sebagai pengingat bahwa politik damai, agama yang menyatukan, dan adat yang menghormati kehidupan harus menjadi fondasi masyarakat Jayawijaya.

Warga diajak untuk menahan diri dari segala bentuk kegiatan ekonomi dan sosial pada hari tersebut. Tidak ada kendaraan lalu-lalang, tidak ada aktivitas pasar, bahkan tempat ibadah pun mengajak umatnya untuk merenung dalam keheningan.

Masyarakat berharap agar momentum ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu membentuk budaya damai yang tertanam dalam keseharian masyarakat Lembah Baliem.(Bk)


Penulis: Leppy Kogoya
(Pemuda Lapago )

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!