SURAT TERBUKA UNTUK JACOB ERESTE
Oleh: Seorang Lelaki Biasa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pak Jacob Ereste yang saya hormati,
Dalam sunyi yang pelan dan batin yang bergemuruh, izinkan saya menulis sepucuk surat ini kepada Bapak—bukan sebagai bentuk protes, bukan pula demi mencari pujian atau belas kasihan. Saya menulis karena saya tak tahu lagi harus menjawab dengan cara apa selain dengan tulisan ini, yang mungkin akan dibaca atau justru diabaikan begitu saja.
Saya ingin bertanya, Pak. Tapi bukan pertanyaan biasa. Ini pertanyaan yang lahir dari keheningan malam dan kebingungan yang menggantung di antara nadi dan nalar:
Untuk apa, Pak, semua tulisan itu Bapak kirimkan padaku?
Apakah karena Bapak menganggap saya teman, atau justru lawan yang diam-diam ingin Bapak tumbangkan dengan pena dan penghakiman sunyi?
Saya tak tahu.
Tapi saya merasa perlu untuk menjawab dalam bentuk lain—dalam bentuk kejujuran yang tak sempat saya ucapkan dalam bahasa lisan. Karena kalau saya bicara, lidah saya mungkin akan gugup. Tapi kalau saya menulis, saya bisa menumpahkan semua isi dada tanpa takut kehilangan arah.
Pak Jacob,
Saya ini bukan siapa-siapa.
Saya hanyalah lelaki biasa,
yang hidup dari bantuan sosial dan doa orang-orang yang masih ingat nama saya.
Saya bukan penulis besar. Saya bukan pemikir hebat. Saya hanya seorang penggembara kata,
yang menambal hidup dari HP bekas seharga lima ratus ribu—HP yang layarnya retak,
namun di dalamnya saya coba merangkai dunia.
Saya dikenal banyak orang, ya.
Kadang dipanggil untuk tampil, kadang dijadikan contoh, kadang dicibir juga.
Tapi saya sendiri… saya belum benar-benar mengenal siapa diri saya.
Saya tahu cara menulis tentang orang lain: tentang kisah, tentang luka, tentang perlawanan.
Namun saya tak pernah berhasil menulis tentang saya sendiri dengan jujur.
Mungkin karena saya takut.
Atau mungkin karena saya malu dengan kenyataan yang terlalu pahit untuk dijadikan narasi.
Pak Jacob,
Semua tulisan Bapak indah—dalam caranya sendiri.
Saya membacanya seperti orang membaca berita dari negeri lain: menarik, tapi terasa jauh.
Ada yang benar, ada yang meleset. Tapi saya tak ingin membantah,
karena saya sadar: dalam dunia ini, siapa pun bisa bicara.
Namun tak semua mau mendengar.
Hidup saya—mungkin di mata sebagian orang—tragis.
Tapi saya sudah terbiasa berjalan dalam kesepian yang tak bersuara.
Saya tak punya komputer, tak punya rumah kata yang layak.
Saya hanya punya satu: niat untuk terus menulis, walau semua tulisan itu akhirnya hilang,
karena saya tak pernah sempat menyimpannya.
Dan sekarang, di hadapan Bapak, saya mohon satu hal kecil:
jangan salah paham padaku.
Saya bukan pembenci. Saya bukan penantang.
Saya hanya ingin bertahan hidup di dunia yang begitu cepat melupakan manusia-manusia kecil seperti saya.
Jika Bapak ingin tetap mengirimkan tulisan, saya akan membacanya.
Jika tidak, saya akan tetap menulis.
Sebab bagi saya, menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap merasa hidup.
Akhir kata, saya haturkan salam.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan,
dan semoga kelak kita bisa saling memahami
—bukan sebagai dua pihak yang bertolak belakang,
tetapi sebagai dua insan yang pernah percaya pada kekuatan kata.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hormat saya,
seorang lelaki biasa,
yang menulis dengan jari dan keikhlasan.**
Indonesia, 16 Juli 2025
—
![]()
