Mimbar Jumat di Al-Zaytun: Panggung Terhormat Bagi Generasi Pemimpin Masa Depan
Oleh Ali Aminulloh
Kontributor Jaya-News.com
Dari seleksi hingga tampil di hadapan ribuan jamaah, pelajar Al-Zaytun dilatih tampil percaya diri menyampaikan khutbah dan adzan dalam forum yang disorot publik
Setiap Jumat, suasana di Al-Zaytun berubah menjadi panggung agung yang mempertemukan spiritualitas, pendidikan, dan pembangunan karakter generasi muda. Masjid Rahmatan lil Alamin, yang berdiri megah di jantung kampus, menjadi tempat para pelajar mempersembahkan yang terbaik bagi agama dan bangsanya—melalui tugas suci sebagai khatib, muadzin, dan qari.
Bukan sembarang pelajar yang dapat mengemban amanah ini. Mereka adalah para santri yang telah ditempa secara sistematis, bertahap, dan penuh dedikasi melalui proses pendidikan yang dirancang cermat. Seluruh rangkaian persiapan khutbah Jumat dilakukan oleh para pelajar tingkat tertinggi—sebuah bukti bahwa Al-Zaytun memang pantas menyandang gelar pusat pendidikan kader bangsa.
Bagi Al-Zaytun, menampilkan pelajar dalam posisi strategis seperti khatib Jumat bukanlah keputusan ringan. Forum khutbah Jumat bukan hanya disaksikan ribuan jamaah dari berbagai kalangan—guru, dosen, mahasiswa, santri, orang tua, hingga tamu yang hadir—tetapi juga kerap disorot media. Maka, kesiapan mental, kompetensi membaca naskah bahasa Arab, keterampilan membaca teks khutbah, serta retorika pidato menjadi bekal utama yang harus dimiliki. Tak heran bila momen ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan besar bagi setiap pelajar yang mendapat amanah.
Proses penyiapan calon khatib dan petugas ibadah Jumat digerakkan oleh OPMAZ (Organisasi Pelajar Al-Zaytun), khususnya bidang peribadatan. Mereka melakukan seleksi berdasarkan kemauan dan kemampuan, lalu menyusun daftar kandidat untuk satu semester penuh. Ada dua lokasi pelaksanaan khutbah: Masjid Rahmatan lil Alamin dan Asrama Persahabatan. Masjid Rahmatan lil Alamin untuk seluruh civitas termasuk pelajar MI dari kelas 4 -6. Asrama Persahabatan khusus untuk pelajar kelas 1 sampai 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah)
Setiap pekan, OPMAZ memilih tiga petugas utama: khatib, muadzin, dan qari. Khusus di Masjid Persahabatan, ditambah satu lagi yaitu badal imam. Semua kandidat qari dibina secara khusus oleh Ustaz Cecep Hilmi Amarullah, M.M., melalui proses pemilihan yang selektif dan mendalam.
Setelah OPMAZ menentukan kandidat khatib dan muadzin, mereka mengajukan nama-nama tersebut kepada Majelis Guru. Pembinaan dilakukan secara intensif oleh para ustaz pembimbing: Drs. Purnomo, M.Pd., Ust. Sujali, S.Ag., dan Ust. Jalaluddin, S.Ag., serta beberapa ustaz lainnya yang dengan penuh kesabaran dan ketekunan mendampingi para pelajar. Latihan dilaksanakan mulai Ahad malam sampai Kamis, malam dan finishing Jumat pagi. Jadwal pelatihan antara lain ba’da Maghrib pukul 18.30 WIB –19.30 WIB. Khusus Kamis sore pukul 15.30 WIB –17.30 WIB, dan Jumat pagi pukul 05.30 WIB–06.30 WIB sebagai sesi pematangan terakhir.
Naskah khutbah yang dibawakan pun ditulis langsung oleh para pelajar. Hari Selasa atau Rabu, naskah tersebut sudah harus masuk ke pembina untuk dilakukan editing ringan. Proses penyuntingan tidak mengubah substansi, melainkan mengarahkan pada perbaikan diksi, pilihan bahasa, dan kesesuaian retorika. Naskah yang sudah final dikirim ke yayasan dan operator untuk ditampilkan di layar digital saat khutbah berlangsung.
Menjelang pelaksanaan Jumat, para petugas mulai bersiap sejak pukul 11.00 WIB. Mereka pulang sekolah lebih awal untuk melakukan persiapan akhir. Pada momen ini, nilai kedisiplinan, ketepatan waktu, dan ketenangan jiwa menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter. Usai pelaksanaan, dilakukan evaluasi oleh para pembina untuk memberikan apresiasi dan koreksi. Evaluasi ini bukan hanya menilai hasil, tapi juga menjadi bimbingan bagi peningkatan di masa mendatang.
Menariknya, informasi tampilan pelajar ini dikirimkan ke orang tua mereka sebagai bentuk penghargaan terhadap pencapaian putra-putra mereka. Dengan cara ini, Al-Zaytun tidak hanya mendidik pelajar, tapi juga membangun ikatan emosional yang erat antara lembaga pendidikan dan keluarga.
Tahapan karier sebagai khatib pun disusun bertingkat. Seorang pelajar harus terlebih dahulu tampil di Asrama Persahabatan. Jika dinilai matang dan layak, barulah dia mendapat kehormatan untuk tampil di Masjid Rahmatan lil Alamin. Tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri. Mereka tampil di hadapan ribuan jamaah yang terdiri dari Syaykh Al-Zaytun, para eksponen lembaga, dosen, guru, orang tua, mahasiswa, serta para pelajar dari seluruh jenjang.
Pengalaman ini bukan hanya mengasah kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi, tapi juga membentuk jiwa kepemimpinan yang visioner. Di sini, mimbar Jumat bukan sekadar tempat berkhutbah, melainkan kawah candradimuka untuk menyiapkan pemimpin umat dan bangsa.
Epilog:
Di Al-Zaytun, khutbah Jumat adalah simbol pendidikan yang menyeluruh: melatih keberanian, membina keilmuan, dan membentuk jiwa yang bertanggung jawab. Prosesnya panjang dan penuh tantangan, tapi hasilnya adalah generasi muda yang siap tampil, berani bicara kebenaran, dan membawa pesan kedamaian. Maka sangat layak bila Al-Zaytun terus tumbuh sebagai pusat pendidikan yang menyiapkan pemuda-pemudi Indonesia menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi.**
Gantar Indramayu, 8 Juni 2025
—
![]()
