Malam Sabtu Kliwonan Jamaah Kabatullah Indonesia: Tradisi Silaturahim,Dzikir,dan Keteguhan Komitmen

Malam Sabtu Kliwonan Jamaah Kabatullah Indonesia: Tradisi Silaturahim, Dzikir, dan Keteguhan Komitmen



INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, ada satu tradisi spiritual yang terus tumbuh dan terjaga dengan penuh kesetiaan: Kliwonan Jamaah Kabatullah. Tradisi ini telah mengakar kuat sebagai salah satu sarana silaturahim dan penguatan ruhani, bukan hanya di lingkungan Al-Zaytun, tetapi juga merambah masyarakat sekitar, khususnya Indramayu dan Cirebon.

Tradisi ini digagas dan dilestarikan oleh Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Panji Gumilang, MP, sebagai bagian dari misi dakwah kultural dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.

*Dua Kliwonan: Satu Semangat, Dua Lingkup*

Kliwonan menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan secara konsisten setiap malam Jumat Kliwon dan Sabtu Kliwon, masing-masing dengan karakter dan peserta yang berbeda. Jumat Kliwonan diikuti oleh civitas akademika Mahad Al-Zaytun dan telah berlangsung sejak tahun 2010. Awalnya diselenggarakan di ruang Masyikah, lalu berpindah ke Masjid Rahmatan lil Alamin, namun semangat dan esensinya tetap terjaga hingga hari ini.

Sementara itu, Sabtu Kliwonan menjadi agenda khusus bagi Jamaah Kabatullah Indonesia (JKI), organisasi yang didirikan oleh Syaykh Abdussalam Panji Gumilang pada tahun 2014. JKI lahir sebagai bentuk komitmen untuk menjaga tali silaturahim, terutama pasca pencalonan Ibu Anis Khoirunnisa sebagai anggota DPR RI yang belum berhasil menghantar beliau ke Senayan. Sebagai respons terhadap amanah dan aspirasi umat, dibentuklah JKI yang anggotanya berasal dari berbagai wilayah di Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, serta sekitarnya.

*Rangkaian Penuh Makna*

Setiap malam Sabtu Kliwon, sekitar 1.200 jamaah hadir memenuhi area Mahad. Mereka disambut dengan santapan malam bersama, menciptakan suasana keakraban sebelum acara dimulai. Kegiatan malam Sabtu Kliwonan (06/06/2025) dibuka dengan shalat berjamaah dan khataman Al-Qur’an, yang dilakukan secara kolektif oleh 30 orang pembaca, masing-masing membaca satu juz dari Al-Qur’an. Peserta lain melantunkan hafalan ayat suci, menyambung harmoni spiritual yang kian terasa.

Acara dilanjutkan dengan istighasah dzikir Thariqah Zaytuniyah, pembacaan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi, lalu ditutup dengan doa bersama yang menyentuh kalbu. Tradisi ini bukan hanya mempererat hubungan dengan Allah, tetapi juga memperkuat hubungan antarsesama.

Dalam suasana yang hangat dan penuh persaudaraan, para peserta dari berbagai daerah diberi kesempatan menyampaikan sambutan. Perwakilan dari JKI Indramayu, JKI Cirebon, dan JKI perempuan menyuarakan harapan dan kesan. Hadir pula para tokoh masyarakat sebagai tamu kehormatan. Momen puncak adalah penyampaian pesan kebangsaan dan keummatan dari Ketua JKI, Syafruddin Ahmad, SH., MH, yang secara berkala juga menyampaikan laporan perolehan sumbangan dan akumulasi tabungan JKI sebagai wujud kemandirian dan partisipasi ekonomi umat.

*Tak Pernah Absen, Bahkan di Masa Sulit*

Sejak pertama kali digelar, Kliwonan tidak pernah absen satu kali pun, termasuk saat menjelang Idulfitri maupun pada masa pandemi Covid-19. Dalam kondisi apapun, acara tetap berlangsung dengan penyesuaian dan penerapan protokol kesehatan. Ini menunjukkan kekokohan niat, serta keteguhan komitmen dari para pelaksana dan jamaah.

Tak hanya itu, Kliwonan juga menjadi wahana pemberdayaan sosial. Setiap Ramadan dan Dzulhijah, JKI menyalurkan Paket Bakti Ramadan dan Bakti Dzulhijah kepada para pihak yang berhak menerima, memperluas keberkahan dari dzikir menjadi gerakan sosial nyata.

*Ruang Wisata Religi dan Apresiasi Tokoh*

Bagi sebagian jamaah, Kliwonan juga menjadi ajang wisata religi. Mereka datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat Mahad Al-Zaytun, berdialog, dan mempererat ukhuwah dengan sesama peserta dari berbagai daerah.

Berbagai tokoh masyarakat hadir secara konsisten, memberikan semangat dan apresiasi. Di antaranya adalah Ustadz Ahmad Royani dari Bugis Anjatan, Drs. H. Ibrahim dari Tukdana, Ust. Ahmad Khumaidi dari Sukagumiwang, Ust. Yusuf dari Kertasari Cirebon, dan Ustadz Mansyur dari Ujung Gebang Cirebon, yang rutin membawa jamaahnya untuk ikut serta dalam kemeriahan spiritual malam Kliwon.

Kegiatan biasanya diakhiri dengan shalat Isya berjamaah sekitar pukul 20.30 WIB, sebelum para peserta kembali ke kediaman masing-masing dengan hati yang damai dan penuh berkah.

*Peneguhan Nilai: Sebuah Komitmen Tak Tergantikan*

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Kliwonan adalah manifestasi dari nilai spiritualitas, kebersamaan, dan kecintaan pada tradisi Islam yang mencerahkan. Ia menjadi bukti bahwa di tengah tantangan zaman, masih ada ruang untuk menghidupkan semangat persaudaraan, menyambung silaturahim, dan mengikat hati dalam nilai-nilai kebaikan.

Tradisi ini juga merupakan pengejawantahan dari kaidah penting dalam Islam:
“ _Al-muhafazhatu ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdu bil-jadid al-ashlah_ ”
(memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Dengan prinsip ini, Kliwonan bukan hanya mempertahankan yang sudah baik, tetapi terus membuka diri terhadap pembaruan yang membawa maslahat lebih luas.

Di tengah masyarakat yang semakin tercerai oleh kesibukan dan perbedaan, Kliwonan hadir sebagai peneguh komitmen kolektif. Bahwa membangun peradaban tidak bisa lepas dari spiritualitas, silaturahim, dan kepedulian sosial yang tulus. Sebuah keteladanan dari Syaykh Abdussalam Panji Gumilang yang menjadikan dakwah bukan sekadar ajakan lisan, tetapi gerakan nyata yang menyentuh hati dan kehidupan umat.


(Ali Aminulloh)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!